http://referral.totobet.net/link.php?member=nomor13 http://xjoss.net/index.php?referrerid=5268
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan

Dokter Miranti

Edo mengimbangi gerakan itu dengan mengangkat-angkat pantatnya kearah
pangkal paha dokter Miranti yang mengapitnya itu. Ia terus menghujani daerah
dada sang dokter yang tampak begitu disenanginya, puting susu itupun menjadi
kemerahan akibat sedotan mulut Edo yang bertubi-tubi.
Namun beberapa saat kemudian sang dokter tampak tak dapat lagi menahan rasa
nikmat dari penis pemuda itu. Ia yang selama dua puluh menit menikmati
permainan itu dengan garang kini mengalami ejakulasi yang begitu hebat.
Gerakannya berubah semakin cepat dan liar, diremasnya sendiri buah dada
montoknya sambil lebih keras lagi menghempaskan pangkal selangkangannya pada
penis Edo hingga sekitar dua menit berlalu ia berteriak panjang sebelum
kemudian menghentikan gerakannya dan memeluk tubuh pemuda itu.
"Oooooooooooooooooooooooooooooooohhhhhhhhhhhh
ooooooooohhhhhhhh.....aaaaaaaaauuuuuuuuuuu, aku keluarrrrr
rrrrrrrr.........Edo..., aaaaaaaaaaaaahh.aaaaaah
aaaaaaaaaaa....hhhhooooooooohhhhhhh....nggak kuat la gi aku,
Do..ooooooohhhh, enaaknya, sayang ooooohhh Edo sayang...hhhuuuuuuuh, ibu
nggak tahan lagi," jeritnya panjang sambil memeluk erat tubuh Edo, cairan
kelamin dalam rahimya muncrat memenuhi liang vagina dimana penis Edo masih
tegang dan keras.
"Oooohhh enak bu, ooohh punya ibu tambah licin dan nikmat...oooooohh..enak
Bu dokter, ooooohhh, semakin nikmat sekali, Bu dokter oooooohhhh enaaak,
mmmmmm..ooo oohhhhhh..uuuuuhhhhh.oooooohhhhh..oooohhhhhh, oooo hhhhhh enak
sekali..uuuuuhhhhh..Bu dokter cantik ooohh hhhh
enaaakkk...aaaaaauuuuuuhhhh...ssssshhhhhh enak bu," desah Edo merasakan
kenikmatan dalam liang vagina sang dokter yang tengah mengalami ejakulasi,
vagina itu terasa makin menjepit penisnya yang terus saja menggesek dinding
vagina itu. Kepala penisnya yang berada jauh didalam liang vagina wanita itu
merasakan cairan hangat menyembur dan membuat liang vagina sang dokter
terasa semakin nikmat dan licin.

Pemuda itu membalas pelukan dokter Miranti yang tampak sudah tak sanggup
lagi menggoyang tubuhnya diatas tubuh Edo. Sejenak gerakan mereka terhenti
meski Edo sedikit kecewa karena saat itu ia rasakan vagina sang dokter
sangat nikmat. Ia berusaha menahan birahinya yang masih saja membara dengan
memberi ciuman mesra pada wanita cantik itu.
"Oh Edo sayang, kamu kuat sekali mainnya sayang, aku puas sekali, ibu
betul-betul merasa seperti berada di tempat yang paling indah dengan sejuta
kenikmatan cinta. Kamu betul-betul jago," katanya pada Edo sambil memandang
wajah pemuda itu tepat didepan matanya, dipeluknya erat pinggang Edo untuk
menahan goyangan penis di selangkangannya.

Sejenak Dokter Miranti beristirahat di pelukan pemuda itu, ia terus memuji
kekuatan dan kejantanan Edo yang sebelumnya belum pernah ia dapatkan
sekalipun dari suaminya. Matanya melirik ke arah jam dinding di kamar itu.
"Edo..," sapanya memecah keheningan sesaat itu.
"Ya, bu?" jawab Edo sambil terus memberi kecupan pada pipi dan muka sang
dokter yang begitu ia senangi.
"sudah satu jam lamanya kita bermain, kamu hebat sekali, Do," lanjutnya
terheran-heran,
"saya baru sekali ini melakukannya, bu," jawab Edo,
"Ah masa sih, bohong kamu, Do," sergah dokter Miranti sambil membalas ciuman
Edo di bibirnya,
"benar kok, bu. Sumpah saya baru kali ini yang pertama kalinya," Edo
bersikeras,
"tapi kamu mainnya kok hebat banget? Dari mana kamu tahu gaya-gaya yang tadi
kita lakukan," lanjut sang dokter tak percaya,
"saya hanya menonton film, Bu," jawab pemuda itu.

Beberapa menit mereka ngobrol diselingi canda dan cumbuan mesra yang membuat
suasana itu kembali membuat birahi sang dokter bangkit untuk mengulangi
permainannya. Dirasakannya dinding vagina yang tadinya merasa geli saat
mengalami ejakulasi itu mulai terangsang lagi. Edopun merasakan gejala itu
dari denyutan vagina sang dokter.
Edo melepaskan pelukannya lalu menempatkan diri tepat di belakang punggung
sang dokter, tangannya nenuntun penis besar itu kearah permukaan lubang
kemaluan dokter Miranti yang hanya pasrah membiarkannya mengatur gaya sesuka
hati.

Pemuda itu kini berada tepat di belakang menempel di punggung sang dokter,
lalu perlahan sekali ia memasukkan penis besarnya ke dalam liang sang dokter
dari arah belakang pantatnya.
"Oooooooouuuuuuuuuuuuhhhhh, pin.tar.nya kamu Edo...ooooh ibu suka gaya ini
mmmmmmmm, goyang teruuuuuuuuuuuusssssshhhhh aaaaaahhhhhhh, enak do, oooooohh
sampai pangkalnya terussssshhh ooooohhh enaaak..tarik lagi sayang
ooooooohhhh, masukin lagii oooooooohhhh, sampai pangkal nya Edo..oooohhh
sayang enak sekali ooohhhh...oohh Edo...oooooohhhhh..mmmmm..Edo, sayang,"
desah sang dokter begitu merasakannya, atas bawah tubuhnya merasakan
kenikmatan itu dengan sangat sempurna.

Tangan Edo meremas susunya sementara penis pemuda itu tampak jelas keluar
masuk liang vaginanya. Keduanya kembali terlihat bergoyang mesra meraih
detik demi detik kenikmatan dari setiap gerakan yang mereka lakukan.
Demikian juga dengan Edo yang menggoyang dari arah belakang itu, ia terus
meremas payudara montok sang dokter sambil memandang wajah cantik yang
membuatnya semakin bergairah. Kecantikan Dokter Miranti yang sangat menawan
itu benar-benar membuat gairah bercinta Edo semakin membara. Dengan sepenuh
hati digoyangnya tubuh bahenol dan putih mulus itu sampai-sampai suara
decakan pertemuan antara pangkal pahanya dan pantat besar sang dokter
terdengar keras mengiringi desahan mulut mereka yang terus mengoceh tak
karuan menikmati hebatnya rasa dari permainan itu.
Sekitar duapuluh menit berlalu tampak kedua insan itu sudah tak dapat
menahan lagi rasa nikmat dari permainan mereka hingga kini keduanya semakin
berteriak keras sejadi-jadinya. Tampaknya mereka ingin segera menyelesaikan
permainannya secara bersamaan.
"Huuuuuhhhhhh...oooooohhhhh....ooooohhhh.aa aaaaahhhhhh...ooooohhhh..enak
sekali..Do, goyang lagi sayang ooooohhh ibu mau keluar sebentar lagi sayang
oooohhhh goyang yang keras lagi sayang ooooohhhh..enaknya penis kamu
ooooohhhh..ibu nggak kuat lagi ooooh," jerit dokter Miranti.
"Uuuuuuhhh aaaahhhhh..oooooohhhh, mmmmmm aaaahhhhhhh saya juga mau keluar
Bu, oooohhhh dokter Miranti sayaaaang oooooohhhh mmmmmmhhhh enaaaaakk sekali
ooohhh oooooohhh, dokter sayang oooooohhh, dokter cantik ooooohhhhh
enaaaakkkkk..dokter oooohhh, dokter sayang oooooohhh vagina dokter juga enak
sekali oooooohhhh," teriak Edo juga,
"Uoooooooohhhhhhh enaknya sayang oooohh pintar kamu sanyang ooooohhh kocok
terussss ooooh genjot yang keraaass oooohhh,"
"Oooooohh dokter ....susunya oooooohhh saya mau sedot oooohhhhh," Edo meraih
susu sang dokter lalu menyedotnya dari arah samping ,
"Oooooohh Edo pintarnya kamu sayang.ooohhh nikmatnya ooohh, ibu sebentar
lagi keluar sayang oooohhh, keluarin samaan yah ooooohhh," ajak sang dokter,
"Saya juga mau keluar Bu, yah kita samaan Bu dokter ooohhh, vagina ibu enak
sekali ooooohhh, mmmmm enaknya ooohhhhh," teriak Edo sambil mempercepat lagi
gerakannya,
Namun beberapa saat kemudian dokter Miranti berteriak panjang mengakhiri
permainannya,
"Aaaaauuuuuuuuuuuuuuuuwwwoooooooooooo....oo
oooooooooooooohhhhh...Edoooooooooooooo, ibu nggak tahan
la...giiiiiiiii...keluaaaaaaaaar...aaaaaaaaaauuuhhh nikmatnya sayang
ooooooooooohhhhhhhhhhhhhh," jeritnya panjang sambil membiarkan cairan
kelaminnya kembali menyembur kearah penis Edo yang masih menggenjot dalam
liang kemaluannya.
Edo merasakan gejala itu lalu berusaha sekuat tenaga untuk membuat dirinya
keluar juga, beberapa saat ia merasakan vagina sang dokter menjepit
kemaluannya keras diiringi semburan cairan mani yang deras kearah penisnya.
Dan beberapa saat kemudian ia akhirnya berteriak panjang meraih klimaks
puncak permainan itu,
"Oooooooooooooooooooooooooohhhhh aaaaaaaaaaaaaa aaaaaahhhhhhhhhhhh
ooooooooouuuuuuuwwwwwwwwwaaaaa hhhhhh dok..ter...Miran..ti
sa..yyaaaaaaaaang.oooo enaaaaaaaaaaak sekaliiiiii..oooooooohh saya juga
kelu.arrrrrr oooooohhhhhhhhhh...," jeritnya panjang sesaat setelah sang
dokter mengakhiri teriakannya,
"Edo sayang oooohhh jangan di dalam sayang, oooohhh ibu nggak pakai alat
kontrasepsi, oooohhhh, sini keluarin di luar Edo, sayang berikan pada ibu,
oooooh enaknya, cabut sayang. Semprotkan ke Ibu ooohhhh," pintanya sembari
merasakan nikmatnya denyutan penis Edo. Ia baru sadar dirinya tak memakai
alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. Didorongnya tubuh Edo sambil
meraih batang penis yang sedang meraih puncak kenikmatan itu.
Kemudian pemuda itu mencabut penisnya dengan tergesa-gesa dari liang
kemaluan sang dokter, dan . cropp bresss..crooottt crooott..creeeessss,
cairan kelamin Edo menyembur kearah wajah sang dokter. Edo berdiri
mengangkang diatas tubuhnya dan menyemburkan air maninya yang sangat deras
dan banyak kearah badan dan muka sang dokter. Sebagian cairan itu bahkan
masuk kemulut sang dokter,
"Ohhhhh...sayang.terus oooohhhh berikan pada ibu
oooohhhhh...hmmmm...nyam...enaknya oooohhh semprotkan pada ibu oooohhhh ibu
ingin meminumnya Edo oooohhh, enaaakkknya sayang oooooh lezat sekali," jerit
wanita itu kegirangan sambil menelan habis cairan mani pemuda itu kedalam
mulutnya, bahkan belum puas dengan itu ia kembali meraih batang penis Edo
dan menyedot keras batang kemaluannya dan menelan habis sisa-sisa cairan itu
hingga Edo merasakan semua cairannya habis.
"Oooohhhh Bu dokter, ooooohhh dokter, saya puas sekali bu," kata Edo sembari
merangkul tubuh sang dokter dan kembali berbaring di tempat tidur.
"Kamu kuat sekali Edo, sanggup membuat ibu keluar sampai dua kali, kamu
benar-benar hebat dan pintar mainnya, ibu suka sekali sama kamu. Nggak
pernah sebelumnya ibu merasakan kenikmatan seperti ini dengan suami ibu. Dia
bahkan tak ada apa-apanya dibanding kamu," seru sang dokter pada Edo sambil
mencium dada pemuda itu.
"Saya juga benar-benar puas sekali, Bu. Ibu memberikan kenikmatan yang
nggak pernah saya rasakan sebelumnya. Sekarang saya tahu bagaimana nikmatnya
bercinta," jawab Edo sekenanya sambil membalas ciuman dokter Miranti.
Tangannya membelai halus permukaan buah dada sang dokter dan memilin-milin
putingnya yang lembut.
"Tapi apakah ibu tidak merasa berdosa pada suami ibu, kita sedang
berselingkuh dan ibu punya keluarga," sergah Edo sambil menatap wajah manis
dokter Miranti.
"Apakah aku harus setia sampai mati sementara dia sekarang mungkin sedang
asik menikmati tubuh wanita-wanita lain?"
"benarkah?"
"Aku pernah melihatnya sendiri, Do. Waktu itu kami sedang berlibur di
Singapura bersama kedua anakku," lanjut sang dokter memulai ceritanya pada
Edo.
Edo hanya terdiam mendengar cerita dokter Miranti. Ia menceritakan bagaimana
suaminya memperkosa seorang pelayan hotel tempat mereka menginap waktu ia
dan anak-anaknya sedang berenang di kolam hotel itu. Betapa terkejutnya ia
saat menemukan sang pelayan keluar dari kamarnya sambil menangis histeris
dan terisak menceritakan semuanya pada manajer hotel itu dan dirinya
sendiri.
"Kamu bisa bayangkan, Do. Betapa malunya ibu, sudah bertahan-tahun kami
hidup bersama, dengan dua orang anak, masih saja dia berbuat seperti itu,
dasar lelaki kurang ajar, bangsat dia itu....," ceritanya pada Edo dengan
muka sedih.
"Maaf kalau saya mengungkap sisi buruk kehidupan ibu dan membuat ibu
bersedih,"
"Tak apa, Do. Ini kenyataan kok,"
Dilihatnya sang dokter meneteskan air mata,
"Saya tidak bermaksud menyinggung ibu, oh..," Edo berusaha menenangkan
perasaannya, ia memeluk tubuh sang dokter dan memberinya beberapa belaian
mesra. Tak disangkanya dibalik kecantikan wajah dan ketenaran sang dokter
ternyata wanita itu memiliki masalah keluarga yang begitu rumit.
"Tapi saya yakin dengan tubuh dan wajah ibu yang cantik ini ibu bisa
dapatkan semua yang ibu inginkan, apalagi dengan permaian ibu yang begitu
nikmat seperti yang baru saja saya rasakan, bu." Kata Edo menghibur sang
dokter.
"Ah kamu bisa aja, do. Ibu kan sudah nggak muda lagi, umur ibu sekarang
sudah empatpuluh tiga tahun, lho?"
"Tapi, bu terus terang saja saya lebih senang bercinta dengan wanita dewasa
seperti ibu. Saya suka sekali bentuk tubuh ibu yang bongsor ini," lanjut
pemuda itu sambil memberikan ciuman di pipi sang dokter, ia mempererat
pelukannya.
"Kamu mau pacaran sama ibu?"
"Kenurut ibu apa yang kita lakukan sekarang ini bukannya selingkuh?" tanya
Edo,
"Kamu benar suka sama ibu?"
"Benar, Bu. Sumpah saya suka sama Ibu," Edo mengecup bibir wanita itu.
"Oh Edo sayang, ibu juga suka sekali sama kamu. Jangan bosan yah, sayang?"
"Nggak akan, bu. Ibu begitu cantik dan molek, masa sih saya mau bosan. Saya
sama sekali tidak tertarik pada gadis remaja atau yang seumur. Ibu
benar-benar sesuai seperti yang saya idam-idamkan selama ini. Saya selalu
ingin bermain cinta dengan ibu-ibu istri pejabat. Tubuh dan goyang Bu dokter
sudah membuat saya benar-benar puas,"
"Mulai sekarang kamu boleh minta ini kapan saja kamu mau, Do. Ibu akan
berikan padamu," jawab sang dokter sambil meraba kemaluan Edo yang sudah
tampak tertidur,
"Terimakasih, Bu. Ibu juga boleh pakai saya kapan saja ibu suka,"
"Ibu sayang kamu, Do"
"Saya juga, bu. Ooooh dokter Miranti....," desah pemuda itu kemudian
merasakan penisnya teremas tangan sang dokter.
"Oooooh Edo, sayang...," balas dokter Miranti menyebut namanya mesra.
Kembali mereka saling berangkulan mesra, tangan mereka meraih kemaluan
masing-masing dan berusaha membangkitkan nafsu untuk kembali bercinta. Edo
meraih pantat sang dokter dengan tangan kirinya, mulutnya menyedot bibir
merah sang dokter.
"Oooooh dokter Miranti, sayang...oooohhhhh," desah Edo merasakan penisnya
yang mulai bangkit lagi merasakan remasan dan belaian lembut tangan sang
dokter. Sementara tangan pemuda itu sendiri kini meraba permukaan kemaluan
dokter Miranti yang mulai terasa basah lagi.
"Oooohhh..uuuuhhhhh Edo sayang...enak.sayang, oooohhhh Edo..Ibu pingin lagi,
Do. Ooooohhh kita main lagi sayang ooooohhhhh," desah manja dan
menggairahkan terdengar dari mulut dokter Miranti.
"Uuuuuuuhhhhhhhmmmmm..saya juga kepingin lagi Bu dokter, ooooohhh. Ibu
cantik sekali..ooooh dokter Miranti sayang ooooohhh, remas terus kontol saya
bu ooooohh,"
"Ibu suka kontol kamu Do, bentuknya panjang dan besar sekali. Ooooooouuuhhh,
baru pertama ini ibu merasakan penis seperti ini," suara desah sangt dokter
memuji kemaluan Edo.

Begitu mereka tampak tak tahan lagi setelah melakukan pemanasan selama
limabelas menit, lalu kembali keduanya terlibat permainan seks yang hebat
sampai kira-kira pukul empat dini hari. Tak terasa oleh mereka waktu berlalu
begitu cepat hingga membuat tenaga mereka terkuras habis. Dokter Miranti
berhasil meraih kepuasan sebanyak empat kali sebelum kemudian Edo mengakhiri
permainannya yang selalu lama dan membuat sang dokter kewalahan
menghadapinya. Kejantanan pemuda itu memang tiada duanya. Ia mampu bertahan
selama itu, tubuh sang dokter yang begitu membuatnya bernafsu itu
digoyangnya dengan segala macam gaya yang ia pernah lihat dalam film porno.
Semua di praktikkan Edo, dari 'doggie style' sampai 69 ia lakukan dengan
penuh nafsu. Mereka benar-benar mengumbar nafsu birahi itu dengan bebas. Tak
satu tempat di ruangan itupun yang terlewat, dari tempat tidur, kamar mandi,
bathtub, meja kerja, toilet sampai meja makan dan sofa diruangan itu menjadi
tempat pelampiasan nafsu seks mereka yang membara.
Akhirnya setelah melewati ronde demi ronde permainan itu mereka terkulai
lemas saling mendekap setelah Edo mengalami ejakulasi bersamaan dengan
orgasme dokter Miranti yang sudah empat kali itu. Dengan saling berpelukan
mesra dan kemaluan Edo yang masih berada dalam liang vagina sang dokter,
mereka tertidur pulas.

Malam itu benar-benar menjadi malam yang sangat indah bagi keduanya. Edo
yang baru pertama kali merasakan kehangatan tubuh wanita itu benar-benar
merasa puas. Dokter Miranti telah memberinya sebuah kenikmatan yang selama
ini sangat ia dambakan. Bertahun-tahun lamanya ia bermimpi untuk dapat
meniduri istri pejabat seperti wanita ini, kini dokter Miranti datang dengan
sejuta kenikmatan yang ia berikan. Semalam suntuk penuh ia lampiaskan nafsu
birahinya yang telah terpendam sedemikian lama itu di tubuh sang dokter, ia
lupa segalanya. Edo tak dapat mengingat sudah berapa kali ia buat sang
dokter meronta merasakan klimaks dari hubungan sex itu. Cairan maninya
terasa habis ia tumpahkan, sebagian di mulut sang dokter dan sebagian lagi
disiramkan di sekujur tubuh wanita itu.

Begitupun dengan dokter Miranti, baginya malam yang indah itu adalah malam
pertama ia merasakan kenikmatan seksual yang sesungguhnya. Ia yang tak
pernah sekalipun mengalami orgasme saat bermain dengan suaminya kini
merasakan sesuatu yang sangat hebat dan nikmat. Kemaluan Edo dengan ukuran
super besar itu telah memberinya kenikmatan maha dahsyat yang takkan pernah
ia lupakan. Belasan kali sudah Edo membuatnya meraih puncak kenikmatan
senggama, tubuhnya seperti rontok menghadapi keperkasaan anak muda itu. Umur
Edo yang separuh umurnya itu membuat suasana hatinya sangat bergairah.
Bagaimana tidak, seorang pemuda tampan dan perkasa yang berumur jauh di
bawahnya memberinya kenikmatan seks bagai seorang ksatria gagah perkasa. Ia
sungguh-sungguh puas lahir batin sampai-sampai ia rasakan tubuhnya terkapar
lemas dan tak mampu bergerak lagi, cairan kelaminnya yang terus mengucur
tiada henti saat permainan cinta itu berlangsung membuat vaginanya terasa
kering. Namun sekali lagi, ia puas sepuas-puasnya.

Sejak saat itu, dokter Miranti menjalin hubungan gelap dengan dengan Edo.
Kehidupan mereka kini penuh dengan kebahagian cinta yang mereka raih dari
kencan-kencan rahasia yang selalu dilakukan kedua orang itu saat suami
dokter Miranti tak dirumah. Di hotel, di apartement Edo atau bahkan di rumah
sang dokter mereka lakukan perselingkuhan yang selalu diwarnai oleh hubungan
seks yang seru tak pernah mereka lewatkan.

Terlampiaskan sudah nafsu seks dan dendam pada diri mereka masing-masing.
Dokter Miranti tak lagi mempermasalahkan suaminya yang doyan perempuan itu.
Ia bahkan tak pernah lagi mau melayani nafsu birahi suaminya dengan serius.
Setiap kali lelaki itu memintanya untuk bercinta ia hanya melayaninya
setengah hati. Tak ia hiraukan lagi apakah suaminya puas dengan permainan
itu, ia hanya memberikan pelayanan sekedarnya sampai lelaki botak dan
berperut besar itu mengeluarkan cairan kelaminnya dalam waktu singkat kurang
dari tiga menit. Ingin rasanya dokter Miranti meludahi muka suaminya, lelaki
tak tahu malu yang hanya mengandalkan uang dan kekuasaan. Yang dengan
sewenang-wenang membeli kewanitaan orang dengan uangnya. Lelaki itu tak
pernah menyangka bahwa istrinya telah jatuh ketangan seorang pemuda perkasa
yang jauh melebihi dirinya. Ia benar-benar tertipu.

Dosen Bejat

Sore, jam 4:30, di Universitas ******, gedung D, tempat perkuliahan fakultas arsitektur, kuliah terakhir selesai sejam yang lalu, tempat itu sudah 90 persen kosong karena sebagian besar dosen dan mahasiswanya sudah pulang. Imron baru saja selesai menyapu di lantai tiga, dia berjalan membawa sapu dan ceruk hendak turun dan beristirahat di ruangnya. Ketika melewati ruang jurusan dia mendengar suara desahan disertai rintihan kecil, semakin mendekati ruangan itu, semakin jelas pula suara-suara itu terdengar. Seringai mesum muncul di wajah kasarnya, ‘mangsa baru’ demikian yang langsung terlintas dalam pikirannya. Mengendap-endap dia mendekati ruangan itu, namun…’sialan’ katanya dalam hati, jendela itu yang bagian atasnya kaca bening tertutup tirai. Akalnya jalan, buru-buru dia ke menuruni gedung itu menuju gudang, sapu dan ceruk itu ditaruhnya lalu diambilnya sebuah bangku tinggi dan segera kembali ke tempat tadi. Dengan hati-hati dia menaiki bangku itu tanpa menimbulkan suara mencurigakan, melalui lubang angin lah dia dapat melihat sumber suara itu.

Mata Imron yang cekung ke dalam itu melotot menyaksikan apa yang dilihatnya. Di atas sofa, Pak Dahlan, dosen sekaligus ketua jurusan arsitektur sedang mencumbui payudara seorang gadis cantik. Si gadis duduk di pangkuannya dengan kaos dan cup bra tersingkap ke atas, kepalanya menengadah dengan mata terpejam sesekali mendesah. Tangan Pak Dahlan memasuki rok gadis itu mengelusi paha putih mulusnya, sebentar kemudian tangannya keluar dari rok itu, kali ini beserta sebuah kain warna putih, oh rupanya dia menarik lepas celana dalam gadis itu. Si gadis juga menggerakkan kakinya membantu celana dalam itu lolos. Setelah celana dalam itu jatuh ke lantai, Pak Dahlan melumat bibir mungil gadis itu, mereka saling kecup, lidahnya pun saling sedot, tangan Pak Dahlan meremasi payudara montok gadis itu, sedangkan tangan gadis itu melingkari punggung Pak Dahlan. Mereka demikian hanyut dalam birahi sampai tidak tahu sepasang mata sedang menintip mereka bahkan memotret mereka dengan cameraphone. Sungguh kontras perbedaan keduanya, si gadis berparas cantik dan bertubuh putih langsing, sementara Pak Dahlan bertubuh tambun dan berkulit sawo matang, rambutnya agak bergelombang dengan kumis di atas bibir tebalnya. Dari segi usianya, Pak Dahlan adalah duda berumur limapuluhan, sebaya dengan Imron, seusia dengan ayah si gadis itu.

Ternyata benar yang dikatakan kabar burung selama ini bahwa Pak Dahlan, bandot tua itu, memang bisa disogok dengan ‘daging mentah’ untuk mengkatrol nilai, dan hal ini berlaku bagi mahasiswi yang punya modal kecantikan. Akal bulus Imron bekerja, kalau saja dia bisa mendekati bandot tua itu, tentunya dia mempunyai koneksi dari kalangan atas yang bisa melindunginya kalau sampai terjadi apa-apa, dengan kata lain ada backing, selain itu juga dia mungkin dapat ikut menikmati korban si bandot tua ini sekaligus memuluskan aksi gilanya. Sungguh rencana jangka panjang yang cemerlang, pengalaman masa mudanya di dunia hitam membentuk dirinya untuk berpikir cepat dan jitu. Dia pun turun dari bangku dan mengetuk pintu. Imron menunggu beberapa saat sebelum pintu terbuka, pastilah yang di dalam sana sedang kelabakan menutupi kejadiannya. Pak Dahlan nongol dari pintu sambil tersenyum menutupi kegugupannya.
“Eh, Pak Imron, ada apa nih, maaf ya tadi ada kerjaan yang tanggung, jadi nunggu lama nih !” katanya sambil keluar dan menutup pintu.

“Ooo…gapapa kok Pak Dahlan, harusnya kan saya yang maaf karena udah ngeganggu kalian”
Kata terakhir itulah yang membuat raut wajah Pak Dahlan berubah tak bisa lagi menyembunyikan rasa bersalahnya. ‘Kalian’ ini berarti penjaga kampus itu telah mengetahui bukan cuma dia sendiri di dalam kantornya, ditambah dia juga melihat bangku tinggi ketika menoleh ke samping.
“Ahaha…Pak Imron ini, anda…!” katanya masih berusaha berkelit
“Tenang aja Pak Dahlan kita ini kan sama-sama laki-laki, saya ga akan mempersulit atau memeras anda kok, malah saya ada penawaran menarik buat anda !” Imron memotong kata-kata Pak Dahlan dan meletakkan tangannya di pundak pria tambun itu.
“Maksud anda ?” tanyanya lagi.
Imron merangkul pundak Pak Dahlan dan menjelaskan tentang kerjasama yang ditawarkan, dengan kelicikannya dirinya dapat menjebak dan menarik wanita yang dia inginkan untuk menjadi budak seksnya, dan dengan kuasanya Pak Dahlan dapat membacking dirinya seandainya satu hari nanti ada situasi darurat, dan juga memberi bantuan informasi mengenai profil korbannya seperti korban dan nomor yang dihubungi.

Senyum kembali mengembang dari wajah Pak Dahlan, ini namanya simbiosis mutualisme atau hubungan saling menguntungkan namanya, begitu pikir Pak Dahlan, berarti dia dapat mencicipi gadis-gadis lain di luar fakultas arsitektur juga, menyediakan informasi dan melindungi baginya masalah kecil mengingat posisinya cukup terpandang di kampus itu.
“Pak Imron hehehe…tau gini kenapa ga cari saya dari dulu hehehe !”
Mereka tertawa-tawa dan berjabat tangan tanda terjalinnya suatu persekongkolan jahat yang akan menghantui setiap gadis-gadis cantik di kampus itu.
“Pak, sekarang itu cewek di dalam gimana, kasian tuh nunggu lama dia !” kata Imron
“Ok deh, biar saya omong ke dia biar kita nikmati bersama, tapi janji yah, besok kasih saya nyicipin hasil anda !” ujar Pak Dahlan dengan antusias.
“Beres deh Pak, pokoknya saya jamin Bapak juga seneng kok !”
Merekapun masuk ke dalam, Pak Dahlan memanggil gadis itu keluar dari persembunyiannya di bawah meja kerja. Dia sempat kaget melihat ada orang lain yang ikut masuk.
“Maaf ya Fan, mari saya jelaskan sebentar…” Pak Dahlan menjelaskan masalahnya dan meyakinkannya agar tidak perlu kuatir skandal ini terbongkar dengan jaminan jabatannya.

Gadis itu lalu dikenalkannya pada Imron. Dia bernama Fanny, 21 tahun, seorang gadis indo bule dengan tinggi 167 cm, berat 49 kg dan berdada 34C, lekuk tubuhnya indah bak biola ditunjang kaki yang panjang dan mulus, rambutnya berwarna kemerahan sebahu, wajahnya pun cantik apalagi saat itu dia memakai soft lens hijau. Terlepas dari itu semua dia adalah mahasiswi yang dikenal bispak dan tukang gonta-ganti pacar. Karena nilai UTS nya yang jeblok, dia nekad menggadaikan tubuhnya ke bandot tua yang kebetulan mengajar mata kuliah yang itu dengan tujuan memperbaiki nilainya. Fanny awalnya merasa risih harus melayani orang rendahan seperti Imron, ditambah lagi tatapan mata Imron yang penuh aura kemesuman. Dia lalu disuruh duduk di sofa diapit kedua pria itu. Imron menatap kagum bentuk tubuh Fanny yang ideal yang terbungkus kaos kuning ketat dengan bawahan rok putih yang menggantung 5cm diatas lutut, putingnya nampak tercetak karena tidak sempat membetulkan letak bra-nya yang tersingkap waktu Imron datang tadi.

Imron mulai membelai lengan mulus Fanny sehingga membuatnya merinding, di sebelah kanannya Pak Dahlan juga kembali merangkul tubuhnya. Lengannya yang gempal masuk lewat bawah bajunya dan mencaplok payudaranya. Pak Dahlan mencaplok bibir Fanny dan melakukan French kiss yang panas. Fanny sendiri semakin naik gairahnya karena remasan Pak Dahlan pada payudaranya dan di sebelahnya Imron juga sudah memegang putingnya dengan dua jari dari luar kaos ketatnya, lalu dia menunduk mengisap puting itu sehingga liurnya membekas di kaos kuning itu. Fanny dengan pasrah merenggangkan pahanya ketika tangan Imron menjalar ke sana, birahinya yang belum tuntas membuatnya menerima kehadiran tamu tak diundang itu.
“Eemmhh…mmmhh !” terdengar lenguhan nafasnya di sela-sela ciuman ketika Imron menyentuh bagian kemaluannya yang sudah tidak tertutup celana dalam.
Imron mengangkat kaki kiri Fanny ke sofa sehingga pahanya terbuka dan menampakkan kemaluannya yang berbulu jarang. Tidak puas cuma memainkan puting itu dari luar, disingkapnya kaos gadis itu mengeluarkan payudaranya, segera terlihat jempol Pak Dahlan sedang menggosok-gosok puting kanannya. Imron memainkan vagina Fanny dengan dua jari sambil mengenyot payudara kirinya, sementara tangan satunya mengelusi pahanya.

Tanpa melepas ciuman, tangan Fanny meraih selangkangan Pak Dahlan dari luar celananya. Dipijatnya bagian yang sudah menggelembung itu dengan lembut.
“Hehehe…udah gatel yah Fan, bentar yah Bapak buka dulu !” Pak Dahlan melepas ciuman untuk membuka celananya.
Fanny tertegun melihat penis Pak Dahlan yang panjangnya sekitar 17cm, hitam dan mengacung diantara pahanya yang besar dan berbulu. Saat itu Imron juga menarik lepas rok yang dikenakan Fanny disusul melucuti pakaiannya sendiri hingga bugil. Perhatiannya beralih sejenak dari penis Pak Dahlan ke tubuh Imron yang lebih berotot dengan bekas luka di dadanya, kulitnya hitam kasar karena sering mengerjakan pekerjaan keras dan dimakan usia, panjang penisnya tak beda jauh dari Pak Dahlan, namun lebih gagah dan keras, terlihat dari guratan-guratan urat di sekitarnya. Belum ditusuk Fanny sudah merasa dirinya luluh lantak tersugesti oleh apa yang dibayangkannya sendiri.

Fanny disuruh menungging di sofa, tangannya menggenggam penis Pak Dahlan dan mulai menjilati kepala penisnya sesuai permintaan pria itu. Sambil mengoral Fanny merasa ada sesuatu yang basah di bawah sana, ternyata Imron sedang menjilati bongkahan pantatnya yang montok. Tubuh Fanny menggelinjang, apalagi waktu mulut Imron bertemu dengan vaginanya, lidah itu beraksi dengan ganas di daerah itu membuatnya semakin becek.
“Diisep Fan !” perintah Pak Dahlan yang langsung dituruti Fanny dengan memasukkan penis itu ke mulutnya, di dalam mulut dia mainkan lidahnya sehingga memberi sensasi nikmat pada penis itu.
Pak Dahlan melenguh nikmat merasakan sepongan Fanny yang profesional itu, tangannya menjulur ke bawah meraih buah dadanya yang menggantung. Kini titik-titik sensitif tubuhnya diserang habis-habisan. Imron menyedot vaginanya hingga mengeluarkan suara-suara ciuman. Kenikmatan itu diekspresikan Fanny dengan semakin bersemangat mengulum penis Pak Dahlan, desahan halus terdengar di sela-sela oral seksnya.

Sementara wajah Imron makin terbenam diantara bulu kemaluan Fanny, dengan jarinya dibukanya bibir vagina itu memperlihatkan bagian dalamnya yang merah basah. Dia lalu menjilati klitorisnya dengan rakus. Fanny makin menggelinjang dan menggoyangkan pantatnya akibat sensasi yang ditimbulkannya. Imron sangat menikmati vagina itu sambil menggeram-geram penuh birahi
“Yeeaahh…enak, wangi Non, sslluurrpp…sssrrpp !!”
“Oohh…iyahhh…terus Fan, enak banget…emut terus !” Pak Dahlan juga blingsatan karena sepongan Fanny, dia meremasi rambut gadis itu sesekali juga payudaranya.
Tiba-tiba Fanny menghentikan sepongannya dan mengerang tertahan, dia lepaskan sejenak penis Pak Dahlan dari mulutnya. Wajahnya meringis karena di belakang sana Imron mendorong penisnya ke vaginanya.
“Uuhhh…pelan-pelan Pak, oohh…oohh…!!” rintihnya dengan menengok ke belakang melihat penis itu pelan-pelan memasuki vaginanya.
Fanny merasakan vaginanya penuh sesak oleh penis itu, benda itu bahkan menyentuh dinding rahimnya. Melayani orang seusia Imron memang bukan yang pertama kali, karena pernah juga dia 2-3 kali melayani om-om setengah baya dengan bayaran tujuh digit, namun mereka tidak seperkasa yang satu ini, Pak Dahlan yang sedang dia oral pun penisnya tidak sekeras dan sepadat Imron.

Imron mulai menggerakkan pinggulnya maju-mundur, gesekan-gesekan nikmat langsung terasa baik oleh yang si penusuk maupun yang ditusuk. Fanny menggelinjang nikmat, tubuhnya melengkung ke belakang, mulutnya mengeluarkan erangan. Erangan Fanny lalu teredam karena Pak Dahlan menekan kepalanya dan menyuruhnya mengoral penisnya kembali. Fanny pun mencoba kembali berkonsentrasi pada penis Pak Dahlan di tengah sodokan-sodokan Imron yang makin kencang.
“Pelan-pelan aja toh Pak Imron, ntar anu saya kegigit gimana ?” himbau Pak Dahlan melihat Fanny agak kesulitan mengoral penisnya karena tubuhnya berguncang terlalu hebat.
“Huehehe…maaf deh Pak, keenakan sih sampe lupa, ini saya turunin giginya deh !” Imron terkekeh lalu mulai mengurangi sedikit kecepatannya.
Dengan begitu Fanny bisa lebih nyaman melayani penis Pak Dahlan sambil mengimbangi gerakan Imron. Fanny mengkombinasikan hisapan dengan kocokan dan belaian pada batang dan puah pelir Pak Dahlan.

Pria itu merem-melek menikmati pelayanan gadis itu, tak lama kemudian dia merasa sudah mau keluar, penisnya berdenyut-denyut semakin cepat sehingga dia menggeram, dan akhirnya cret…cret…muncratlah spermanya ketika Fanny sedang mengocok sambil menjilatinya. Cairan putih kental itu membasahi wajah dan tangannya, lalu Fanny kembali memasukkan benda itu ke mulutnya sehingga semprotan berikutnya tertelan olehnya, dihisapnya dengan bernafsu sampai batang itu berangsur-angsur berkurang ketegangannya, lidahnya membersihkan benda itu sampai benar-benar bersih. Kemudian Fanny melepaskan sepongannya dan wajahnya terangkat, namun tangannya masih menggenggam batang penis itu, nampak dia menggerakkan lidah menjilati sperma di sekitar bibirnya. Pak Dahlan bersandar lemas pada sofa setelah mencapai klimaksnya, dia membuka bajunya sendiri karena kepanasan sehingga perutnya yang bulat dengan dada yang sedikit berbulu itu terlihat. Tubuh hitam kedua pria itu terlihat kontras dengan tubuh Fanny yang putih mulus. Di tubuh Fanny sendiri kini hanya tersisa bra dan kaosnya yang sudah tersingkap.

Di belakang sana, Imron kembali menaikkan tempo genjotannya, tangannya yang tadi cuma berpegangan pada pinggangnya menjalar ke depan meremasi dua payudaranya.
“Oooohhh…aaahhh… .eehhmm…Pak !” suara lirih keluar dari mulut gadis itu setiap kali Imron menyodok-nyodokkan penisnya.
Cairan pelumas dari vagina Fanny makin banyak sehingga penis Imron yang sedang keluar-masuk di sana semakin lancer. Perasaan nikmat menjalari tubuhnya hingga akhirnya membobolkan pertahanannya. Tubuhnya mulai mengejang seiring nafasnya yang makin memburu. Sebuah erangan panjang menandai orgasmenya. Serangan Imron semakin ganas dan dia menyusul ke puncak beberapa menit kemudian. Spermanya yang hangat mengisi liang kemaluannya, dia melenguh melepaskan cairan itu serta mendekap erat tubuh Fanny hingga jatuh telungkup menindihnya. Setelah orgasmenya reda, Imron beringsut dan duduk di posisinya semula. Fanny masih telungkup dengan satu kaki menjuntai ke lantai, keringat membasahi tubuh dan wajahnya, dari selangkangannya cairan itu meleleh membasahi daerah itu juga sofa kulit di bawahnya.

Pak Dahlan mengangkat lengan Fanny dan menyandarkan punggungnya ke sofa, dengan tissue disekanya ceceran sperma di wajah gadis itu. Dengan tenaganya yang mulai pulih, Fanny meraih tas kecil yang dia letakkan di meja dekat situ, diambilnya sesachet tissue basah untuk mengelap wajahnya agar lebih bersih dan mengurangi aroma sperma itu. Pak Dahlan rupanya sudah ingin mencoba vagina Fanny, disuruhnya Fanny tidur telentang di sofa dan langsung dituruti tanpa disuruh kedua kali. Imron menawarkan pahanya pada Fanny untuk bersandar, sehingga dia pun bisa mendekap tubuhnya. Setelah posisinya pas, Pak Dahlan merenggangkan kedua belah paha Fanny dan menempelkan ujung penisnya pada bibir vagina Fanny.
“Ooohh…!” desah Fanny dengan tubuh bergetar ketika penis Pak Dahlan mulai memasukinya.
Tangannya meraih telapak tangan Imron dan meletakkannya di payudaranya seakan-akan meminta diremasi. Perlahan Pak Dahlan mulai memaju-mundurkan pantatnya, di sisi lain Imron mendekap tubuh Fanny sambil menggerayangi payudaranya, putingnya dia cubit pelan, sesekali digosok-gosokkannya jarinya di sana, sesekali mulutnya juga nyosor melumatnya sehingga benda itu makin mengeras.

“Enak yah Non, kapan nih pertama kali ngentot ?” tanya Imron dekat telinganya tanpa melepas tangannya dari payudaranya.
“Dulu di…sma…hhhmmmhh… enam…aah…belas tahun !” jawabnya dengan lirih
“Sekarang udah ada pacar Non ?” tanyanya lagi sambil memelintir putingnya.
“Lagi ngga…aahhh…aahh… iyah Pak…enak !”
Imron mengakhiri pertanyaannya dengan memagut bibir Fanny, dicumbunya gadis itu dengan penuh nafsu, Demikian halnya dengan Fanny yang tengah dilanda birahi, dia tak kalah seru membalas serangan mulut Imron sampai terdengar suara-suara kecupan disamping desahan yang teredam, lidah Imron yang tebal dan kasar menyapu segenap rongga mulut Fanny, air liur nampak menetes dari sudut bibir keduanya. Pak Dahlan terus menggenjoti vagina Fanny sambil menggumam tak jelas, terkadang dia melakukan gerakan memutar sehingga Fanny merasa kemaluannya diaduk-aduk. Setelah puas berciuman, Imron lalu menarik lepas kaos dan bra Fanny yang sudah terangkat hingga tak sehelai kain pun tersisa di tubuhnya.

Imron bergeser sedikit sehingga bisa mengarahkan penisnya yang sudah mengeras lagi ke mulut Fanny.
“Ayo Non, servis mulutnya dong !” pintanya.
Fanny pun mulai menggenggam penis itu dan mendekatkan mulutnya. Gila perkasa banget, keras dan urat-uratnya nonjol gini, demikian kata Fanny dalam hati, diam-diam dia mengagumi keperkasaan penis Imron yang barusan mengocok vaginanya. Batang itu sedikit lengket karena masih berlumur sperma dan cairan kemaluannya yang hampir kering. Fanny membuka mulut selebar mungkin untuk memasukkan benda itu yang tidak muat seluruhnya di mulutnya yang kecil. Kemudian dia mulai mengisapnya sambil mengocok pangkalnya yang tidak masuk mulut dengan tangannya. Kurang dari lima menit Imron menyudahi oral seks itu, kini dia menaiki dada Fanny dan menjepitkan penisnya yang basah diantara kedua gunung kembar itu. Payudara Fanny yang bulat montok itu rupanya menggoda Imron untuk mencoba ‘breast fucking’, digesek-gesekkannya penisnya diantara himpitan payudaranya. Terkadang Fanny mengerang dan meringis menahan sakit karena Imron melakukannya dengan brutal, belum lagi sodokan-sodokan Pak Dahlan pada vaginanya.

Pak Dahlan makin mendekati puncak kenikmatan, genjotannya semakin cepat dan mulutnya makin menceracau. Hal serupa juga dialami Fanny yang syaraf-syaraf pada organ kewanitaannya bereaksi makin dahsyat mengirimkan sensasi nikmat ke seluruh tubuhnya. Keduanya pun mencapai orgasme berbarengan, sekali lagi cairan sperma mengisi vaginanya, sampai meluber sebagian melalui pinggir bibir vaginanya. Imron yang sedang bergumul diatas dadanya bagaikan cowboy yang sedang main rodeo di atas tubuh Fanny yang terlonjak-lonjak diterpa orgasme. Tak lama kemudian spermanya menyemprot ke wajah dan dadanya. Setelah semprotannya reda, Imron menempelkan penisnya ke bibir Fanny. Tahu apa yang harus dilakukan, Fanny pun menjilati penis itu hingga bersih dan membersihkan sisa-sisa spermanya.Kedua hidung belang itu bersandar lemas pada sofa, Fanny juga terbaring melepas lelah sambil mengelap sperma di dadanya dengan jari dan dia jarinya menikmati ceceran sperma itu. Acara hari itu selesai sampai disitu, Pak Dahlan menyuruh Fanny datang lagi keesokan harinya atas permintaan Imron, Imron pun berjanji menawarkan salah satu ‘budak’nya untuk dicicipi dosen bejat itu.

Malam hari itu sekitar jam delapan, sebuah SMS berbunyi ‘besok di lt3 tiga gedung D, jam empat sore’ masuk ke ponsel Sherin, gadis yang pernah diperkosa Imron di sebuah kelas kosong bersama sopirnya (eps. 3). Dia meneguk ludah, pasrah dengan nasibnya karena tidak ada pilihan lain baginya dibawah intimidasi Imron terhadapnya, juga dia khawatir keselamatan pacarnya yang sangat dia sayangi kalau tidak menuruti kemauan bajingan itu. Memang sebuah dilema baginya, namun tak dapat disangkal dirinya juga mulai menikmati diperkosa oleh Imron dengan gayanya yang liar itu. Selanjutnya diapun mengirim SMS pada temannya yang berencana akan ke kafe keesokan harinya untuk berangkat duluan, dia akan menyusul belakangan karena ada urusan keluarga.

Dalam tidurnya dia bermimpi menemukan dirinya dalam sebuah ruangan dengan hanya memakai bra dan celana dalam. Tiba-tiba sepasang lengan kokoh mendekapnya dari belakang, dia tidak bisa melihat wajahnya karena suasana yang remang-remang, yang jelas tangan itu mulai menggerayangi tubuhnya. Kemudian di hadapannya muncul dua sosok lain dari keremangan itu. Wajah mereka mulai terlihat jelas, yang satunya bertubuh kurus dengan kumis tipis, yang lain tubuhnya lebih berisi dengan bekas luka di dada, keduanya cuma bercelana dalam. Dia meronta dan menjerit mengetahui orang itu adalah bekas sopirnya yang memperkosanya habis-habisan sebelum pergi, sedangkan yang satu lagi tak lain si maniak pemerkosa di kampusnya. Keduanya terkekeh-kekeh melepas celana dalam mereka mengeluarkan penis mereka yang sudah tegang. Mata mereka memandang nanar pada tubuh mulus yang hanya terbungkus pakaian dalam itu. Tangan gempal dari belakangnya menyusup ke cup branya dan bersentuhan dengan kulitnya. Kemudian kedua orang di hadapannya menarik robek pakaian dalamnya, tangan-tangan kasar itu berkeliaran di sekujur tubuhnya dan membuatnya menggelinjang hebat. Diapun terbangun dengan tubuh berkeringat dan selangkangannya sedikit basah. Jam telah menunjukkan pukul tiga dinihari, setelah meminum seteguk air, akhirnya dengan susah payah dia tertidur lagi.

Keesokan harinya, setelah selesai main basket Sherin menaruh barang-barangnya di mobil tanpa salin terlebih dahulu. Dengan langkah berat diapun menuju gedung D dengan pakaian timnya berupa kaos putih agak longgar dan celana pendek ketat yang memperlihatkan paha jenjangnya. Rambutnya diikat ke belakang agar tidak terlalu panas setelah berolahraga. Di gedung D tinggal sedikit orang disana, disana tidak ada lift karena tempat itu memang gedung lama dan lantainya memang hanya tiga. Makin berjalan ke atas makin sepi saja rasanya, ketika menaiki tangga lantai dua menuju ke tiga dia dikagetkan oleh sebuah tangan yang menepuk pantatnya.
“Huh…jaga dong sikapnya Pak, ini kan tempat umum !” gerutu Sherin dengan kesal.
“Hehehe…gitu aja marah ah !” katanya santai “yuk kita keatas, udah ditunggu tuh !”
“Hah, apa Bapak bilang ? ditunggu ?” Sherin terkesiap “saya emang salah apa ? kok Bapak malah buka mulut sih !” suaranya meninggi karena marah.
“Lha, Non kan sukanya rame-rame, seperti waktu sama sopir Non itu kan, jangan sewot gitu dong !”
“Tapi kan Bapak janji ga bakal ngebuka rahasia, tapi kok gini sih !” Sherin tambah kesal
“Heh-heh, katanya ini tempat umum kok sendirinya omong keras-keras, mau ketahuan apa?” timpal Imron “hayo mau ke atas ga, tambah seorang aja kok, atau mau yang lain juga ikutan tau” ancamnya

Tanpa ada pilihan lain, akhirnya Sherin pun mengikutinya ke atas. Walaupun kesal, namun sisi lain dirinya juga mulai menyenangi dikeroyok seperti waktu itu, dan sekaranglah dia akan kembali mengalaminya. Imron mengetuk pintu ruang Pak Dahlan dan terdengar suara dari dalam mempersilahkan masuk.
“Nah, ini nih Pak cewek yang saya janjiin kemarin, sip kan !?”
Wajah Sherin merah padam mendengar ocehan Imron, serendah itukah dirinya, seperti seorang pelacur yang sedang dipromosikan oleh germonya saja.
“Ini gila, aku ini anak dari keluarga baik-baik, punya cowok yang baik, bajingan inilah yang menyeretku ke dalam lembah nista ini, tapi kok aku malah bergairah diperlakukan tidak senonoh gini” Sherin bergumul dalam hatinya.
Pak Dahlan menatapinya sejenak dari bawah sampai atas, lalu mempersilakannya duduk. Sherin yang masih canggung menurutinya setelah diberi syarat gerakan mata oleh Imron. Pak Dahlan berbasa-basi dulu dengan menanyakan nama, kuliah di fakultas apa, dan bagaimana studinya. Sherin merasa tidak nyaman dengan tatapan pria itu yang seakan menelanjangainya sehingga selama diajak ngobrol dia agak nervous.

“Habis main basket ya ?” tanyanya lagi yang dijawab dengan anggukan “Minum dulu ya, biar segar !” katanya sambil bangkit ke arah dispenser dekat situ dan mengisi sebuah gelas kecil.
Sherin menerima gelas yang disodorkan Pak Dahlan seraya mengucapkan terima kasih. Diminumnya air itu beberapa teguk. Kemudian tangan Pak Dahlan memegang tenguknya serta memijatnya pelan. Hal itu membuat bulu kuduknya merinding karena tangan itu juga mengelusi lehernya.
“Gimana udah lebih enakan sekarang ?” tanyanya sambil terus memberikan pemanasan melalui pijatannya.
Sherin terdiam tak mampu menjawab apapun, pijatan lembut pada pundak dan lehernya itu membuatnya merasa nyaman sehabis berolahraga barusan sekaligus membangkitkan nafsunya.
“Wah, badannya keringatan gini, dibuka aja bajunya biar ga gerah ya !” ucapnya kalem
Mungkin karena bagusnya foreplay Pak Dahlan, Sherin tak mampu menolaknya, malahan dia mengangkat sendiri tangannya membiarkan kaos timnya dilucuti pria itu sampai terlihat tubuhnya yang indah dengan perut rata dan payudara yang masih tertutup bra krem.

Pak Dahlan memandang kagum akan keindahan tubuh Sherin yang akan dia nikmati sebentar lagi. Dia tak ingin menikmatinya terburu-buru agar lebih terasa enaknya.
“Celananya sekalian yah Sher !” katanya lagi sambil merunduk meraih bagian pinggang celana sport itu.
Seperti sebelumnya, kali ini pun dia pasrah celana itu diloloskan lewat kedua kakinya sehingga kini di tubuhnya hanya tersisa satu stel pakaian dalam warna krem dan kaos kaki dan sepatu basket. Dia menyilangkan lengan ke dada dengan wajah memerah karena malu. Imron sejak masuk tadi masih duduk di sofa memperhatikan gadis itu diwawancarai hingga dikerjai seperti sekarang, wajahnya terlihat nyengir-nyengir memperhatikan adegan itu. Pak Dahlan menarik lepas ikat rambut Sherin hingga rambutnya terurai hingga bahunya.
“Wah...wah, bener-bener kaya bidadari, Pak Imron ini pinter milih ya !” sahutnya mengagumi kecantikan Sherin “coba berdiri Sher, ayo jangan malu-malu”
Dia melihat tubuh gadis itu tanpa berkedip, kemudian mulai mengelus pipinya, tangannya, elusannya terus turun hingga menyusup lewat atas celana dalamnya.

Sherin menggigit bibir sambil memegangi lengan Pak Dahlan yang memasuki celana dalamnya, tapi hanya sekedar memegangi bukannya menahan. Kata-kata penolakan gadis itu yang hanya retorika belaka malah membuat Pak Dahlan semakin gemas dengannya. Tangan itu mulai membelai permukaan vagina yang ditumbuhi bulu-bulu lebat itu, semakin jauh menyentuh bibir kemaluannya.
“Sshhhh…eemmhh !!” akhirnya Sherin pun tak sanggup lagi menahan desahannya
Dengan nafsu sudah diubun-ubun, Pak Dahlan langsung memeluk gadis itu dan menyerbu bibirnya. Lidahnya menyeruak masuk ke mulutnya yang terbuka ketika mendesah. Jari-jari Pak Dahlan mulai terasa memasuki vaginanya dan bergerak liar seperti ular sehingga menyebabkan daerah itu semakin becek. Erangan tertahan terdengar dari antara percumbuan yang panas itu. Puas berciuman, Pak Dahlan kembali mendudukkan Sherin di kursi tadi, lalu di depan gadis itu dia membuka celananya, burungnya yang sudah bangun tadi seakan meloncat dari sangkarnya begitu dia menurunkan celana dalamnya. Sherin terhenyak melihat benda yang mengacung tegak mengarah ke wajahnya itu.

Pak Dahlan meraih kepala Sherin sambil tangan yang satunya menggenggam penisnya dan mendekatkan ke mulutnya.
“Ayo, diemut yah !” pintanya.
Dengan pasrah Sherin mulai menggenggam penis itu dengan tangan bergetar, mulutnya dia buka untuk memasukkan batang itu. Pria tambun itu menggeram nikmat merasakan kuluman Sherin dan permainan lidahnya. Sekitar tiga menitan dia mengoral Pak Dahlan, terdengarlah ketukan di pintu, semua di ruang itu diam dengan mata memandang ke pintu.
“Gapapa…Non Fanny kok !” Imron memberitahu setelah mengintip lewat tirai.
“Siapa Pak !” Sherin nampak bingung dan mengambil pakaiannya yang tercecer untuk menutupi tubuhnya
“Aah…tenang aja Sher, ntar kamu juga kenalan kok, udah ini taro lagi deh !” kata Pak Dahlan seraya mengambil kaos dari tangan gadis itu.
Fanny agak kaget ketika melihat di ruang itu ada gadis lain yang hanya berpakaian dalam dan dosennya dengan celana sudah melorot itu.

“Dia kesini mau ngeramein suasana, tenang aja aman kok !” Imron menjelaskan pada Fanny.
Sementara itu Pak Dahlan kembali mengeluarkan penisnya dan medekatkannya ke mulut Sherin. Karena waktu itu Sherin masih merasa risih, Pak Dahlan menjejalkannya ke mulut dengan setengah paksa.
“Ayoh…gapapa kok, jangan malu-malu gitu !” katanya.
Dari belakang, Imron memeluk pinggang Fanny yang masih terbengong menyaksikan kelakuan dosennya itu. Diciumnya leher jenjang Fanny sehingga bulu kuduknya merinding dan semakin horny. Tangannya dengan lincah melepas sabuk dan membuka resleting gadis itu, maka meluncur jatuhlah celana jeans panjang itu memperlihatkan keindahan sepasang paha mulus dibaliknya serta celana dalam G-string yang seksi. Telapak tangan Imron menyelinap ke balik celana dalam itu dan memegang kemaluannya. Tubuh Fanny bergetar dan matanya terpejam menahan nikmat terlebih ketika jari-jari Imron menggosok bibir kemaluannya.

Hembusan nafas dan ciuman Imron pada telinganya membuat nafsunya makin naik. Kemudian dia mengangkat tangannya dan melingkarkan ke belakang kepalanya. Wajahnya menengok ke samping dan langsung mendapat pagutan panas dari Imron. Sambil berciuman, Imron menggerakkan tangan satunya menyingkap kaos ‘NEXT’ tanpa lengan yang dikenakan Fanny. Tangannya pun mulai menggerayangi tubuh bagian atasnya hingga akhirnya menyusup ke cup bra kanannya.
“Eemmpphhh…mmm !” desah Fanny tertahan setiap kali Imron mengorek liang vaginanya dengan jarinya atau mempermainkan putingnya.
Sementara di hadapan mereka, Pak Dahlan sudah menghentikan oral seks bersama Sherin. Sekarang pria tambun itu sedang duduk memangku Sherin yang tinggal memakai celana dalamnya saja sambil menyusu dari payudaranya. Tangan satunya menopang tubuh Sherin dan tangan lainnya bergerilya menyusuri keindahan tubuhnya. Pipi pria itu sampai kempot menyedot puting Sherin, sepertinya dia sangat gemas dengan payudara Sherin yang putih montok dengan puting kemerahan itu. Sherin sendiri nampak mendesah nikmat dengan kepala menengadah dan mata terpejam.

Imron menggiring Fanny ke sofa tempat kemarin bertarung, dia melepas pakaian karyawannya hingga bugil memperlihatkan penisnya yang sudah mengeras itu. Kemudian dia naik ke sofa menindih tubuh Fanny, kembali dia mencumbunya dengan ganas, keduanya berpelukan erat sambil memainkan lidah masing-masing. Berbeda dengan korban Imron lainnya yang umumnya harus ditaklukkan dengan cara paksa, Fanny nampaknya ok-ok saja melayani si penjaga kampus ini, bahkan cukup antusias. Dengan predikat sebagai gadis nakal semua itu tentu hanya sekedar tambah pengalaman baginya. Dari bibir ciuman Imron merambat turun sambil lidahnya menjilati leher dan pundaknya hingga ke payudaranya yang sudah keluar dari cup branya. Terlebih dulu Imron melepaskan kaosnya yang sudah tersingkap, selanjutnya dia keluarkan payudara yang satunya dari cupnya. Bra itu tetap melingkar di dadanya, hanya saja cupnya sudah dipeloroti. Mulut Imron mengenyoti kedua gunung itu secara bergantian, daerah itu jadi basah oleh ludahnya.
“Aahh…ahhh…mmmhh !” desah Fanny sambil meremasi rambut Imron.
Tangan Imron turun ke bawah memeloroti celana dalam G-string itu perlahan-lahan sambil mengelusi pahanya hingga celana itu pun akhirnya terlepas tapi masih nyangkut di kaki kiri Fanny.

Tidak jauh dari situ, nampak Sherin yang duduk di tepi meja kerja dengan Pak Dahlan masih duduk di kursi tadi dengan kepala terbenam di selangkangan gadis itu. Lidah Pak Dahlan menari-nari menyapu dinding vagina Sherin, terkadang juga menyentuh klitorisnya. Tangan kirinya menjulur ke atas memijati payudara kirinya, sedangkan tangan kanannya mengelusi paha dan pantatnya, sesekali juga ikut memainkan jarinya pada vaginanya. Sebentar saja badan Sherin sudah menegang.
“Oohh…Pak, aaahh !” kedua paha mulusnya makin menghimpit wajah Pak Dahlan.
Pak Dahlan dengan rakus menyedoti cairan cintanya sampai terdengar bunyi menyeruput. Setelah itu dia bangkit berdiri di depan Sherin yang masih duduk di tepi meja, kaki kanannya dia buka lebih lebar dan diarahkannya kepala penisnya ke vagina Sherin. Dia lalu menekan penisnya pada vagina Sherin yang sudah becek itu. Sherin tersentak ketika batang itu menyeruak masuk dengan agak kasar ke dalam vaginanya, terasa sekali benda itu menggesek dinding vaginanya yang penuh lendir.
“Aaww…aagghh !” desahnya dengan badan tertekuk ke atas.

Pria tambun itu menyetubuhinya dengan ganas sehingga payudara Sherin nampak tergoncang-goncang seirama hentakan tubuhnya. Matanya merem-melek merasakan tusukan penis Pak Dahlan yang datang bertubi-tubi. Dia mengarahkan pandangannya ke depan dan dilihatnya wajah lebar berkumis itu sedang menatapnya dengan takjub. Pria itu terus menyetubuhinya sambil berpegangan pada kedua pahanya. Sherin melingkarkan tangan kirinya ke leher Pak Dahlan dan tangan kanannya bertumpu di meja.
“Ah…iyah Pak…aahh-ah-terus !” Sherin menceracau demikian secara refleks.
Sebuah benda basah yang hangat mendadak terasa menggelitik telinganya, rupanya Pak Dahlan sedang menjilati daerah itu. Jilatan dan hembusan nafasnya di sana membuat gairahnya semakin meledak-ledak. Selanjutnya bibir Pak Dahlan bergeser ke pipinya, sapuan kumisnya terasa pada wajahnya yang halus hingga bertemu dengan bibir Sherin yang tipis. Desahannya pun teredam karena mulutnya dilumat oleh Pak Dahlan. Mulut Pak Dahlan yang lebar itu seolah-oleh ingin menelan Sherin, lidahnya yang kasap itu menjelajahi rongga mulutnya membuatnya agak gelagapan.

Di atas sofa, tubuh Fanny terbaring dengan kepala bersandar pada sandaran tangan, satu-satunya pakaian yang tersisa di badannya hanya bra yang cupnya sudah diturunkan, Imron yang menindihnya menaik-turunkan tubuhnya sambil menciumi lehernya. Rasa nikmat itu diungkapkan Fanny lewat desahannya, sesekali dia menggigiti jarinya sendiri, kedua tungkainya melingkari pinggang Imron seolah meminta ditusuk lebih dalam lagi. Imron meningkatkan frekuensi genjotannya sambil melenguh nikmat merasakan seretnya vagina yang menghimpit penisnya. Duapuluh menit berlalu, Imron kini mengubah gayanya. Tubuh Fanny dia baringkan menyamping, paha kirinya dia angkat ke bahu, kemudian penisnya kembali memasuki vaginanya lewat samping. Dengan begini penis itu dapat melakukan penetrasi lebih dalam. Imron melanjutkan genjotannya dan meraih sebuah payudaranya, diremasnya benda itu dengan gemas sehingga pemiliknya merintih. Tubuh Fanny maupun Imron sudah berkeringat, keduanya saling memacu tubuhnya masing-masing. Di ambang klimaks Imron makin ganas menyodoki Fanny yang orgasme tak lama kemudian, dia menggeram panjang lalu mencabut penisnya dan, crot…crot…isi penis itu berceceran di perut Fanny.

Kembali kita menengok Sherin dan Pak Dahlan di meja kerja. Mereka kini sedang dalam gaya berdiri, Sherin berpegangan pada tepi meja, dia tinggal memakai kaos kaki dan sepatu olahraganya saja, sementara Pak Dahlan menyodoki vaginanya dari belakang. Sebelumnya Sherin sudah mencapai orgasme sewaktu posisi duduk di meja, sisa-sisa cairan orgasme itu masih nampak membasahi pinggir meja. Kedua tangan Pak Dahlan mendekap dadanya, telapak tangannya menggerayangi kedua buah dada yang bergoyang-goyang itu. Sherin jadi teringat mimpinya semalam, tangan yang sedang bermain di payudaranya berjari-jari besar, persis dalam mimpinya itu, apakah mimpi itu suatu pertanda, apakah merupakan sebuah peringatan, demikian yang berkecamuk dalam pikirannya. Lamunan itu terhenti ketika ada suatu sensasi dahsyat mengalir dalam tubuhnya, semakin terasa hingga akhirnya tubuhnya mengejang hebat, dan cairan vaginanya sekali lagi membasahi selangkangannya, posisinya yang sedang berdiri membuat cairan itu meleleh ke pahanya. Bersamaan dengan itu juga terasa cairan hangat mengisi vaginanya. Pak Dahlan yang telah orgasme terus memompa Sherin dengan kecepatan makin menurun, sperma itu ikut meleleh bercampur dengan cairan kewanitaannya.

Setelah gelombang orgasme itu reda, Sherin merasa tubuhnya lemas kehilangan topangan, mungkin sudah roboh kalau saja tidak didekap Pak Dahlan. Pak Dahlan menarik pinggan Sherin seraya menjatuhkan diri ke kursi sehingga Sherin pun mendarat di pangkuannya.
“Hebat Sher, makasih ya, kapan-kapan kita main lagi ok !” katanya sambil memeluk dan menciumnya.
“Huh, dasar gendut mesum, yang kaya gini jadi dosen bukannya jadi germo, amit-amit deh !” omel Sherin dalam hati.
Demikian setelah istirahat sebentar mereka bertukar pasangan dan pesta seks di ruang itu berlangsung lagi sampai jam lima lebih ketika langit mulai menguning. Fanny akhirnya berhasil mengkatrol nilainya setelah membayar dengan tubuhnya. Hari-hari berikutnya Pak Dahlan benar-benar puas mencicipi korban-korban Imron yang lain seperti Ellen, Jesslyn, dan Rania. Korban itu akan terus bertambah apalagi setelah kedua penjahat kelamin itu kini telah bersekongkol.

Reuni Penuh Gairah Dengan Mantan Pacarku

Cerita ini diawali di atas Kereta Api Senja Utama II tujuan Yogya - Jakarta saat distasiun Purwokerto, dimana kereta berhenti sebentar aku turun untuk membeli rokok. Namun karena terlalu lama aku turun keluar aku hampir ketinggalan kereta, begitu kereta mulai berjalan perlahan aku naik lewat gerbong paling belakang.

Saat aku berjalan menuju ketempat dudukku aku melihat seorang gadis yang rasanya pernah aku kenal, namun aku ragu untuk menegurnya karena aku hanya melihat dari belakang. Namun saat lewat di sampingnya aku memberanikan diri untuk menatap wajahnya, dan kebetulan dia juga melihatku. Begitu aku yakin kalau dia adalah kekasihku yang hilang 5 tahun yang lalu,karena setelah lulus sma kami berpisah, aku kuliah di yogya dan dia mencari kerja di jakarta, tanpa ada alamat yang jelas. Maka aku memberanikan diri untuk menyapanya.

"Yann!", tegurku, namun dia sepertinya tidak mengenali diriku karena brewok di wajahku dan rambutku yang panjang sebahu. Lalu kembali aku menyapanya,"yann!", "masa kamu tidak kenal sama aku?" tanyaku padanya.

Diapun balik bertanya kepadaku,"Mas siapa ya?", tanya dia. "aku Riady", jawabku, aku lihat dia tersentak kaget begitu dengar namaku. Tampak diwajahnya air mata menetes jatuh, aku nggak tahu dia sedih atau gembira saat itu.

Kemudian aku mengajak dia untuk pindah ke gerbong tempatku saja, kebetulan aku duduk sendirian, tanpa menunggu jawaban aku mengambil tas yang dibawanya, dan dia mengikutiku sambil terus menggandeng tanganku seolah tak ingin berpisah lagi.

Lalu kami bercerita saling melepas rindu, bahkan dia mengira aku bakal meninggalkan dia sehingga dia menerima laki-laki lain untuk menggantikan aku. Namun aku sadar akan hal itu aku nggak mau memaksanya untuk kembali padaku. Lama kami cerita lalu dia minta aku untuk mengantarnya ke kamar kecil. Sambil menyalakan sebatang rokok aku mengantarnya dan menunggunya di pintu WC kereta. Sambil menikmati rokok aku aku menunggunya, tiba-tiba dia memintaku mengambilkan handuk kecil di tasnya, saat aku berikan handuk tersebut dia langsung menarik tanganku masuk ke dalam WC kereta tersebut dan langsung mengunci pintunya. Dia mendekap diriku erat sekali sehingga payudaranya terhimpit dengan dadaku, aku menundukan kepala untuk mengecup bibirnya, dan lidah kami bermain dalam mulutnya.

Begitu nikmat rasanya saat itu hingga penisku menjadi membengkak karena rangsangan. Ingin sekali aku mengelus payudaranya tapi tidak bisa karena himpitannya. Namun di menggesekan vaginanya begitu merasakan penisku membengkak.

Aku sangat menikmati hal itu, kemudian aku pun menurunkan tanganku untuk meremas pantatnya. Dia hanya semakin keras menggesekan vaginanya sampai dia mengerang merasakan kenikmatan. Aku selipkan tangan ku ke balik celana jeans yang di pakainya menyusuri belahan pantatnya. Dia kembali mengerang seraya mengendurkan dekapannya.

"Ooocchhh maasss", erangnya menahan nikmat.

"aahhhh!!, Masss...ayooooo", ajaknya sambil merintih.

Kemudian aku tarik kembali tanganku dan membuka ruitsliting celananya. "Cepetan masss!!", pintanya, sambil menurunkan celananya hingga hanya mengenakan CD saja.

Aku lihat CD nya sudah basah oleh lendir yang keluar dari liang vaginanya.Terus aku elus sambil kutekan vaginanya yang masih tertutup oleh CD itu sehingga terlihat bentuknya yang sungguh menggiurkan.

"Ayooo doong masss!", "aku nggak tahan nich, ooccchhh!", erangnya memohon.

Aku merasa kasihan padanya, kemudian aku turunkan CD nya dan kumainkan klentitnya yang menonjol dan keras.

"Yang cepet maassss!!!", "ooo...aaacccchhh, masss", erangnya.

"Ennnaaakk!!!", "aahhhhh", "ceppeeeett, maasss!!!!", teriaknya keenakan.

Langsung aku berjongkok dan menjilati vaginanya yang basah dan tertutup oleh lebatnya bulu jembutnya.

"Auuchh!", "diapakan vaginaku masss", tanya dia, "oooohhhhh, masss!!" "enaaak!!", "oooohhhhh", "terruuussss!!!", pintanya

Namun tiba-tiba dia berkata, "Masss, akkhuu pinginn kencinggg niiich". Tapi aku tidak mempedulikan teriakannya, isapanku terhadap klentitnya makin kuat hingga beberapa detik kemudian tampak pahanya merapat dan menghimpit kepalaku.Dia mengejang dan dari mulutnya terdengar teriakannya,

"Ouuuucchh.............. masssss!!!!", "heeeggh", "akhhhhhh......!!!" "akhuuu uddaach nggaaakkkk kuaaattssss","heegghhh", "ooooookkkkhhhhh" cairan deras keluar dengan deras mengalir di sela pahanya yang jenjang itu,diiringi denyutan-denyutan vaginanya, setelah mengejang beberapa saat dia tampaknya menjadi lemas karena orgasme yang baru saja dia alami.

Karena takut ketahuan penumpang lain maka kami tidak melanjutkan permainan. Dia merapikan pakaiannya, kemudian aku menggandengnya ke tempat duduk agar tidak terjatuh karena badannya masih lemas.

Tanpa terasa kereta sudah memasuki stasiun jatinegara, dan dia harus turun disini karena rumah kontrakkannya di bekasi, sedang aku turun di gambir,namun sebelum berpisah aku mengecup keningnya dan tak lupa meminta alamatnya.

Setelah memberikan alamat kontrakannya Yani kemudian turun di stasiun Jatinegara, dan aku terus melanjutkan perjalananku sampai di stasiun gambir.

Aku terus membayangkan apa yang barusan kami lakukan di wc kereta tadi. Aku terbayang akan keindahan tubuh Yani yang di perlihatkannya padaku barusan.

Setelah kereta memasuki stasiun gambir lamunanku buyar, dan aku mengambil tasku lalu kemudian mencari penginapan.Namun niatku untuk mencari penginapan aku batalkan, kemudian aku membeli tiket kereta pakuan bisnis tujuan Bekasi. Dan tanpa menunggu lama kereta tiba aku langsung naik kereta tersebut.

Setibanya di stasiun Bekasi aku mencari alamat yang dia berikan padaku, 30 menit kemudian aku sampai di Tambun dimana dia mengontrak. Aku naik ojek menuju kealamatnya.

Dia terkejut saat dia melihatku sampai di depan rumahnya, karena dia tidak menyangka aku akan datang secepat itu.

"Mas, kok nggak jadi nginap di hotel?", tanya Yani keheranan.

"Nggak ah, enakkan di tempat kamu," jawabku sekenanya.

"Ok deh, masuk dulu mas!", Yani mempersilahkan aku masuk. Kami duduk di ruang tengah dan sambil menyalakan televisi Yani bertanya,"Rencananya berapa lama mas nginap di Jakarta?"

"Rencananya sih cuma tiga hari", jawabku. "kamu tinggal di sini sama siapa?" tanyaku padanya. "Cuma sendirian aja, apa mas mau menemani?", tanya dia kembali.

"kalau kamu ijinkan nggak masalah", jawabku. "Kalo gitu mas nginap aja disini, gratis kok", katanya sambil menatap wajahku penuh harap. "khan bisa menghemat uang mas", katanya lagi.

"Oke deh kalo gitu", kataku mengiyakan, dan tanpa minta ijin dariku lebih dulu Yani langsung mengambil tasku dan memasukkan ke kamar tengah yang kosong dan bersebelahan dengan kamarnya.

Setelah dia keluar kamar langsung aku bertanya kembali padanya, "apa cowok kamu sering nginap di sini?",tanyaku.

"Nggak pernah, bahkan dia nggak pernah tahu alamatku", jawab Yani.

"Masa sih?", tanyaku nggak percaya.

"Nggak percaya ya udah", jawabnya.

"Sebenarnya aku belum bisa mencintai Doni (nama cowoknya) mas", katanya,

"Karena aku sendiri memang belum bisa melupakan mas", jelasnya padaku.

"Kalau aku nginap di sini nanti ada masalah dengan tetangga", kataku.

"Nggak usah khawatir mas, nanti sore kita lapor Pak RT, kalau mas nginap di sini",katanya. "Dan nanti kita ajak mas kamto rumah sebelah, biar dia yang yang menjelaskan bahwa kita masih saudara/sepupu", katanya lagi.

"Mas...kalo mau mandi dulu silahkan aja", katanya sambil beranjak dari tempat duduknya.

"Baiklah","tapi kamar mandinya di mana?", tanyaku. "Ada di dalam kamar kok mas","aku juga belum mandi mau mandi dulu", jawabnya sambil berjalan menuju kamarnya.

Belum lama aku di dalam kamar mandi, aku mendengar suara panggilan dari luar.

"Maasss.....", panggilnya, "Maaf mas ini sabunnya",katanya.

Lalu aku langsung membuka pintu kamar mandi, dan aku kaget ketika melihat pemandangan di luar. Yani berdiri di depanku hanya dengan handuk yang dililitkan ditubuhnya, dan dengan sekali sentakan dari tangannya handuknya pun terlepas dari tubuhnya.

Sungguh indah sekali tubuh Yani yang telanjang bulat. Begitu putih terawat dan payudaranya yang masih kencang dengan puting warna coklat muda menghiasi payudaranya, perutnya kecil dengan pinggul yang indah dan di antara kedua pahanya terlihat bulu jembutnya yang rimbun menutupi vaginanya yang kecil itu. Melihat aku terpana kagum pada keindahan tubuhnya, dia langsung menyerobot masuk ke kamar mandiku.

"Mass aku mandi di sini saja ya", pintanya.

"Kita mandi sama-sama saja", katanya lagi sambil menutup pintu kamar mandi. Aku nggak bisa melarangnya ataupun menolaknya.

Kemudian Yani langsung membuka satu persatu pakaianku, hingga aku juga telanjang bulat di depannya.

"Mas.. penis mas kok lebih besar dari pada tadi pagi sih?", tanya Yani sambil mengenggam batang penisku dan tangannya yang satu lagi memainkan biji pelirku,sambil meringis menahan nikmat kujawab saja sekenanya, "Tadikan masih di dalam celana Dek (panggilanku terhadap Yani)", "sekarang udah nggak terkurung lagi alias bebas berdiri", kataku menjelaskan.

"Mas...tadikan mas mainin vagina Dhedek, sekarang Dhedek mau maini penis mas Ya", pintanya.

Tanpa menunggu jawaban dariku Yani langsung mengurut batang penisku yang sudah maksimal berdiri dan terus mengusap kepala penisku dengan lembutnya.

"Oouuuch dheee.....", "enaaaak.....", "teruuuuss ddheeeee.....", erangku. sambil berjongkok lalu dia mengisap penisku, dan itu pun nggak bisa masuk semua, (panjangnya 22 cm, diameter 5cm), hingga hanya bisa masuk separuhnya saja.

Yani terus mengisap penisku sambil tangannya mengusap vaginanya yang juga telah banjir karena terangsang menyaksikan penisku yang besar bagi dia. hampir 20 menitan dia menghisap penisku dan tak lama terasa sekali sesuatu di dalamnya ingin meloncat ke luar.

"Dedeeeee.......ooohhhkk.........eennnaaaakkkkkhhgghhhh......teruuuussss",teriakku, Dia mengerti kalo aku mau keluar maka dia memperkuat isapannya dan sambil menekan vaginanya aku lihat dia mengejang dan matanya terpejam, dan creet........suuurrrr.......ssuuuuurrr.......ternyata Yani sudah orgasme terlebih dahulu.

"Oghs...maaghhhss",erangnya tertahan karena mulutnya tersumpal oleh penisku.

Dan karena isapannya terlalu kuat akhirnya aku juga nggak kuat menahan ledakan dan sambil kutahan kepalanya ku semburkan maniku ke dalam mulutnya ccrrooooot.....cccrrrruuuuuuuttttt.........cccrrrooooooot.....cccccrroottt.... banyak sekali hingga tak sanggup Yani menelan semuanya dan mengalir di belahan bibirnya yang sensual itu. Lalu kucabut penisku yang masih berdenyut-denyut aaahhhhhkkkkkggghghhh......ooooooohhhhhhgggghhh. "hheeeemmmmm enaaaaakkkk massss", katanya, "gurih dan asin sekali mani punya mass", ujarnya merasakan puas.

"Masss....", panggilnya, "gimana sih rasanya kalo di entot itu?", Yani bertanya padaku.

"Aku sendiri belum pernah ngerasai kok dhe", jawabku.

"Mas mau nggak masukin penis mas ke dalam vagina dhede?" tanya Yani seraya memohon. Aku merasa ragu, namun karena penisku masih berdiri dengan kerasnya dan didorong oleh nafsu maka aku hanya menganggukkan kepalaku. Melihat anggukan kepali ku Yani kemudian duduk di tepian bath-up sambil mengangkangkan kedua kakinya, hingga vaginanya yang tertutup oleh bulu jembut itu tampak terbuka dan terlihat sisa lendir yang mengalir di pahanya yang putih itu, dan klentitnya pun terlihat sudah membengkak. Lalu sambil berdiri aku mengarahkan penisku tepat diatas lobang vaginanya dan ku gesek perlahan kepala penisku di atas klentitnya.

"Auugghhh masss.....geeelliii", rintih Yani menikmati gesekan di klentitnya itu.

"Masukin aja masss", "cepetannnnn....ooohhhhh", erangnya sambil menggenggam penisku.

Dengan pelahan dan penuh perasaan kutekan penisku hingga kepala penisku membelah bibir vaginanya, tapi tampak mata Yani melotot dan wajahnya memerah sambil menahan laju penisku.

Tahhaannnn dulu masss....sakitt", erangnya.

Aku turuti permintaannya, selang beberapa detik kembali dia memintaku untuk menekannya.

Kutekan kembali hingga kepala penisku berhasil masuk ke lobang vaginanya. Namun dia berteriak kesakitan, aduuuhhhhh maasssss", "sakit sekalliii".

Karena teriakannya itu maka aku menghentikan gerakanku dan membiarkan kepala penisku terbenam di belahan vaginanya. Aku rasakan denyutan vaginanya di kepala penisku, dan membuat rasa nikmat yang tak pernah aku bayangkan. Kemudian tangan Yani melepaskan genggamannya dan memegang pantatku lalu berusaha menekannya.

Aku pun mengikutinya hingga penisku masuk sampai 1/4 batangnya. Yani tampak meringis menahan sakit, tapi tangannya terus menekan pantatku hingga secara perlahan penisku masuk separuh. penisku terasa sekali di pijat oleh vaginanya dan menimbulkan rasa nikmat yang teramat sangat.

Aku diam sambil menikmati denyutan vaginanya sekitar 5 menit, dan tampaknya sakit yang dirasakan yanni sudah hilang.

"Gimana Dhek...???", tanyaku padanya, "masih sakit sedikit mass....rasanya mau pipis lagi nih....oooohhhh....", katanya. Belum selesai ucapannya, tiba-tiba badan Yani mengejang dan tangannya menekan pantatku hingga masuk lebih dalam (kira-kira 17 cm), dan aku merasakan menabrak sesuatu di bagian dalam vaginanya.

"Aaaakkkhhhh.......hheeeggghhh.....heeeeghhhkkk....oooouuuuuggghhhkkssss.......mmaaasssss....eeeannnaakkhhsss",Yani berteriak menahan nikmat,...sseerrr....seerrrr......cairan hangat dari lubang rahimnya menerpa kepala penisku dan terus mengalir keluar dengan deras hingga membuat lobang vaginanya semakin licin.

Kira-kira sekitar 10 detik Yani mengejang dan kemudian dia lemas kembali. Aku tetap membiarkan penisku di dalam vaginanya dan kukulum bibirnya dan lidah kami pun bertarung saling membelit didalam bibirnya sekitar 5 menit,dan kemudian perlahan-lahan aku mengerakan pantatku maju mundur, hingga tampak vagina Yani kempot kedalam saat ku tekan pantatku, dan kelihatan menonjol begitu aku tarik penisku.

"Heeegghhh....aahhhgggss", Yani mendesah dan merintih, tampaknya Yani sudah kembali menerima rangsangan. Karena vaginanya yang sangat licin maka dengan lancar penisku keluar masuk kedalam vaginanya."Ooohhhhh....uuuuhhhhh......enaaaakkhhhsss dhedeeee......aahhhhh", erangku

"Iyaaa maassss....ooooohhhhsss...teeerrruuusss maaasssss.......oooooohhhh aaakkkkhhhhsss",rintih Yani menerima kenikmatan tiada tara, sambil mengoyangkan pantatnya ke kiri dan kanan.

Aku pun semakin mempercepat gerakan maju mundur penisku, hingga Yani menggelengkan kepalanya kekiri dan kanan sambil matanya terpejam, hanya erangan dan rintihan yang mendesah yang keluar dari mulutnya.

"Oooohhhh maasssss......Ennaaakkssss masssss......uuuugggghhhhs..oooooooomasss....lebih cepeeet laggiiii massss....oooohhhggggg ...maassss......terruuuss ooooohhhhh....tekan terusssss maasssssss",rintihannya semakin menjadi.

Dan Yani semakin cepat sekali mengoyangkan pantatnya maju mundur, hingga beberapa saat kemudian aku rasakan tangannya mencengkeram pantatku dengan kencangnya.

Aku mengerti kalo Yani mau orgasme lagi, maka aku menghentikan gerakanku dan membiarkan Yani menggerakkan pantatnya maju mundur agar dia memperoleh kenikmatan yang tiada taranya, lalu dengan penuh perasaan dan pelan aku tekan penisku.

Saat aku rasakan kepala penisku menabrak mulut rahimnya Yani menghentikan gerakkannya dan kembali badannya mengejang sambil kedua kakinya di tekuk di belakang pantatku.

"Aakkhhhuuuu nnggggaaaakkkksss kuuuaatttsssss maassssss......", teriaknya.

"Aakkkhhuuu keelluuuaaaarrrrr laaaggghhiiiii maassssss......"erangnya. "Ooopppsssss...aaaakkkkhhhhhssss....aaakkkhhhhhsssss.........uuuuhhhhh.... hegghhhssss.....hheeegghhhhssss", teriaknya diiringi cairan hangat yang membanjiri vaginanya sseerrrrr......sseeerrrrrrr.

Belum lagi kejangnya hilang aku yang tadi diam kembali mengerakan pantatku maju mundur dengan cepat.

"Oookkkhhhh maasssss.... stooppppsss maasssss!!!", pintanya namun aku tidak mempedulikannya, aku tetap menggerakan pantatku maju mundur tapi nggak secepat yang pertama, kali ini aku gerakan dengan perlahan untuk membangkitkan kembali gairahnya.

Lalu kuangkat pantatnya dan ku gendong Yani sehingga penisku semakin dalam masuknya menekan mulut rahimnya. Waktu aku gendong dia tampaknya Yani mendapatkan rangsangan baru, dia semakin erat memelukku.

Kemudian aku gendong Yani keluar kamar mandi dan kurebahkan diatas ranjang tanpa mencabut penisku dari vaginanya.dan kami pun bergelut diatas ranjang, dan Yani pindah posisi berbalik keatas dan terus duduk diatas penisku yang terbenam di vaginanya hingga membuka mulut rahimnya.

Baru beberapa menit dia kembali mengejang, namun kali ini aku nggak diam smbil menikmati semburan hangatnya aku membalik badannya dan mendorong penisku maju mundur.

Entah berapa kali dia orgasme selama hampir 1 jam 30 menit aku main dengan Yani baru aku merasakan sesuatu tekanan dari dalam dan akupun ingin mengakhirinya secepat mungkin, karena aku merasa kasihan melihat Yani yang sudah lemas karena orgasme yang berulang kali.

Hingga akhirnya aku menekan dalam dalam penisku dan "oooookkkkkhhhhhh dheeeekkkssss......akhuuuuuuu keluaaarrrrr........ aaakkkhhhhhsss...... akkhhhhhsssssss.............",teriakku sambil mendekap erat tubuh telanjang Yani, dan Yanipun demikian juga

"Yaniiiii juugggghhhhaaaa keeelllluuuaarrrr maassssss ...... oookkkkssssss....... oooouuuugghhhhssss....... akkhhhssssss.....ooohhhhhhh

Ccrrooott.....crrott....sseerrrr....sserrrr

Akhirnya kami berdua menjadi tekulai lemas dan memutar posisi dan membiarkan Yani tetap menindihku dengan penisku tetap di dalam vaginanya. Kami tidak jadi mandi, dan hanya mandi keringat.

"Mass enak sekali, mas hebat", puji dia terhadapku.

"Apakah kamu capek Dhe?", tanyaku

"Iya mas", "aku lemas sekali, jadi besok aja yah nemeni mas ngedaftar kerja", katanya sambil mengecupku.

"Oke deh kalo gitu"

Lalu Yani tertidur diatasku dengan pulas kecapekan karena perjalanan jauh juga dengan apa yang kami lakukan barusan. Sepintas aku melihat bercak merah bercampur lendir diatas sprei. Ternyata Yani masih perawan, akupun memeluknya erat hingga tertidur juga dengan penisku yang masih berada di dalam vagina Yani.

Ibu Kost Lily

Sudah hampir setahun Zaki tinggal di tempat kost bu Lily. Bisa tinggal di tempat kost ini awalnya secara tidak sengaja ketemu bu Lily di pasar. Waktu itu bu Lily kecopetan, trus teriak dan kebetulan Zaki yang ikut menolong menangkap copet dan mengembalikan dompet bu Lily. Trus ngobrol sebentar, kebetulan Zaki lagi cari tempat kost yang baru dan bu Lily mengatakan dia punya tempat kost atau bisa di bilang rumah bedengan yang dikontrakkan, yah jadi deh tinggal di kost-an bu Lily.

Bu Lily lumayan baik terhadap Zaki, kelewat baik malah, karena sampai saat ini Zaki sudah telat bayar kontrak rumah 3 bulan, dan bu Lily masih adem-adem aja. Mungkin masih teringat pertolongan waktu itu. Tapi justru Zaki yang gak enak, tapi mau gimana, lha emang duit lagi seret. akhirnya Zaki lebih banyak menghindar untuk ketemu langsung dengan bu Lily.

Sampai satu hari…… waktu itu masih sore jam 4. Zaki masih tidur-tiduran dengan malasnya di kamarnya. Tempat kost itu berupa kamar tidur dan kamar mandi di dalam. Terdengar pintu kamarnya di ketok… tok..tok..tok.. lalu suara bu Lily yang manggil,”Zack…Zaki… ada di dalem gak?” Sontak Zaki bangun, wah bisa berabe kalo nanyain duit sewa kamar nie, pikir Zaki. Dengan cepat meraih handuk, pura-pura lagi mandi aja ah, ntar juga bu Lily pergi sendiri. Setelah masuk kamar mandi kembali terdengar suara bu Lily,” Zaki lagi tidur ya..?” dan dari kamar mandi Zaki menyahut sedikit teriak,” lagi mandi bu….”

Sesaat tidak ada sahutan, tapi kemudian suara bu Lily jadi dekat,”ya udah mandi aja dulu Zack, ibu tunggu di sini ya…” eh ternyata masuk ke kamar, Zaki tadi gak mengunci pintu. “busyet dah, terpaksa bener-bener harus mandi nie,”pikir Zaki.

Sekitar lima belas menit Zaki di kamar mandi, sengaja mandinya agak dilamain dengan maksud siapa tau bu Lily bosan trus gak jadi nunggu. Tapi rasanya percuma lama-lama toh bu Lily sepertinya masih menunggu. Akhirnya keluar juga Zaki dari kamar mandi, dengan hanya handuk yang melilit di pinggang, tidak pakai celana dalem lagi, maklum tadi gak sempet ambil karena terburu-buru.

Bu Lily tersenyum manis melihat Zaki yang salah tingkah,”lama juga kamu mandi ya Zack…” bu Lily membuka pembicaraan. “pasti bersih banget mandinya ya…” gurau bu Lily sambil sejenak melirik dada bidang Zaki. “ah ibu bisa aja… biasa aja kok bu.., oia ada apa ya bu..?” jawab Zaki sekenanya saja sambil mengambil duduk di pinggiran tempat tidur. Bu Lily mendekat dan duduk di samping Zaki, “Cuma mau ngingetin aja, uang sewa kamarmu dah telat 3 bulan lho… trus mau ngobrol-ngobrol aja sama kamu, kan dah lama gak ngobrol, kamu sie pergi mlulu…”ucap bu Lily. Zaki jadi kikuk,”wahduh… kalo uang sewanya ntar aku bayar cicil boleh gak bu? Soalnya lagi seret nie…” jawab Zaki dengan sedikit memohon.

Bu Lily terlihat sedikit berpikir…”mmmm… boleh deh, tapi jangan lama-lama ya… emang uangmu di pakai untuk apa sie?” terlihat bu Lily sedikit menyelidik. “hmmm… pasti buat cewe mu ya…”dia terlihat kurang senang.

“ah nggak juga kok bu….. saya emang lagi ada keperluan,” jawab Zaki hati-hati melihat raut wajah bu Lily yang kurang senang.

“huh…laki-laki sama aja, kalo lagi ada maunya, apa aja pasti di kasih pada perempuan yang lagi di dekatinya, hhhh… sama aja dengan suamiku….”keluh bu Lily dengan nada kesal.



Waduh nampaknya bu Lily lagi marahan nie sama suaminya, jangan-jangan amarahnya ditumpahkan pula sama Zaki. Dengan cepat Zaki menjawab,”tapi saya janji kok bu, akan saya lunasi kok…”

“hhhhh….”bu Lily menghela nafas,”udahlah Zack, gak apa-apa kok, gak di bayar juga kalo buat kamu ga masalah… ibu Cuma lagi kesel aja sama suamiku, dia cuma perhatiannya sama Marni terus… aku seperti gak dianggap lagi, mentang-mentang Marni jauh lebih muda ya.”

sedikit penjelasan bahwa bu Lily ini istri pertama dari pak Kardi, sedangkan istri keduanya bu Marni. Dan sekarang sepertinya pak Kardi lebih sering tinggal di rumahnya yang satu lagi bersama bu Marni dan bu Lily tampaknya udah mulai kesepian nie

“wah kalo masalah keluarga sie aku kurang paham bu…. “jawab Zaki kikuk

“gak apa-apa Zack, ibu hanya mau curhat aja sama kamu… boleh kan Zack?” suara bu Lily sendu. Agak lama terdiam, terdengar tarikan nafas bu Lily terasa berat, dan sedikit sesunggukan, waduh lama-lama bisa nangis nie, gawat dong pikir Zaki.

“udah bu jangan terlalu dipikirkan, nanti juga pak Kardi kembali lagi kok, kan ibu juga gak kalah cantiknya sama bu Marni,”Zaki bermaksud menghibur.

“ah kamu Zack… emang ibu masih cantik menurutmu?” bu Lily menatap sendu ke arah Zaki, terlihat dua butir air mata mengalir di pipinya. Uhh…. ingin rasanya Zaki menghapus air mata itu, pak Kardi emang keterlaluan masa wanita cantik nan elok seperti ini dianggurin sie, coba Zaki bisa berbuat sesuatu… busyet… Zaki memaki dalam hati… “kenapa otak gwa jadi kotor gini.”

Dengan sedikit gugup Zaki menjawab,”mmm…eee…iya kok bu, ibu masih cantik, kalo masih gadis mungkin aku yang duluan tergoda.” Uupsss …. Maksud hati ingin menghibur, tapi kenapa kata-kata yang menggoda yang keluar dari mulut… gerutu Zaki dalam hati. Zaki jadi panik, jangan-jangan bu Lily marah dengan ucapan Zaki. Tapi ternyata Zaki salah, karena bu Lily tersenyum, manis sekali dengan deretan gigi yang putih dan rapi,”ih Zaki bisa aja menghibur…. Iya juga sie, kalo masih gadis bisa aja tergoda, pantes aja suamiku gak ngelirik aku lagi, bis nya dah tua sie…” rona wajah bu Lily berubah sedih lagi,”kalo menurutmu Zack, apa ibu emang gak menarik lagi…?” sambil berdiri dan memperhatikan tubuhnya kemudian menatap Zaki minta penilaian. Terang aja Zaki makin kikuk,”wah aku mau ngomong apa ya bu…? Takutnya nanti di bilang lancang lho… tapi kalo mau jujur…. Ibu cantik banget, seperti masih 30an deh.”

Bu Lily tampaknya senang dengan pujian itu,”hmmm.. kamu ada-ada aja saja… ibu udah 43 lho.. emang Zaki liat dari mananya bisa bilang begitu?”

Zaki jadi cengar cengir,” ….itu penilaian laki-laki lho bu, saya malu bilangin nya.”

Bu Lily kembali duduk mendekat, sekarang malah sangat dekat hampir merapat ke Zaki sambil berkata,” ah.. gak perlu malu…. Bilang aja…”

Nafas Zaki terasa sesak, badan nya terasa panas dingin menghadapi tatapan bu Lily, matanya indah dengan bulu mata yang lentik, sesaat kemudian Zaki mengalihkan pandangan ke arah tubuh bu Lily mencari alasan penilaian tadi, uups baru deh Zaki memperhatikan bahwa bu Lily memakai baju terusan seperti daster tapi dengan lengan yang berupa tali dan diikat simpul di bahunya. Hmmm .. kulit itu mulus kuning langsat dengan tali baju dan tali bra yang saling bertumpuk di bahu, pandangan Zaki beralih ke bagian depan uupss… terlihat belahan dada yang hmmm… sepertinya buah dada itu lumayan besar. Sentuhan lembut tangan bu Lily di paha Zaki yang masih dibungkus handuk cepat menyadarkan Zaki. Dengan penuh selidik bu Lily bertanya,”lho… kok jadi bengong sie..? apa dong alasannya tadi bilang ibu masih 30an…”

Zaki sedikit tergagap karena merasa ketahuan terlalu lama memandangi tubuh bu Lily,”mmm… eeemm.. ibu benar-benar masih cantik, kulitnya masih kencang… masih sangat menggoda…”
Tidak ada jawaban dari mulut bu Lily, hanya pandangan mata yang kini saling beradu, saling tatap untuk beberapa saat… dan seperti ada magnet yang kuat, wajah bu Lily makin mendekat, dengan bibir yang semakin merekah. Zaki pun seakan terbawa suasana, dan tanpa komando lagi, Zaki menyambut bibir merah bu Lily, desahan nafas mulai terasa berat hhhh…hhhh…ciuman terus bertambah dahsyat, bu Lily menjulurkan lidahnya masuk menerobos ke mulut Zaki, dan dibalas dengan lilitan lidah Zaki sehingga lidah tersebut berpilin-pilin dan kemudian deru nafas semakin berat terasa.

Dengan naluri yang alami, tangan Zaki merambat naik ke bahu bu Lily, dengan sekali tarik, terlepas tali pengikat baju di bahu tersebut dan dengan lembut Zaki meraba bahu bu Lily sampai ke lehernya…. Kemudian turun ke arah dada, dengan remasan lembut Zaki meremas payudara yang masih terbungkus bra itu. “hhhhh…hhhh” nafas bu Lily mulai terasa menggebu, nampaknya gairah birahinya mulai memuncak. Jemari lentik bu Lily tak ketinggalan meraba dan mengelus lembut dada Zaki… melingkari pinggang Zaki, mencari lipatan handuk, hendak membukanya…

Uupps…. Zaki tersentak dan sadar….,”ups…hhh… maaf bu… maaf bu… saya terbawa suasana….” Zaki tertunduk tak berani menatap bu Lily sambil merapikan kembali handuknya, baru kemudian dengan sedikit takut melihat ke arah bu Lily.

Terlihat bu Lily pun agak tersentak, tapi tidak berusaha merapikan pakaiannya, sehingga tubuh bagian atas yang hanya tertutup bra itu dibiarkan terbuka. Pemandangan yang menakjubkan. “napa Zack… kita sudah memulainya… dan kamu sudah membangkitkan kembali gairah ibu yang lama terpendam… kamu harus menyelesaikannya Zack…” tatapan bu Lily terlihat semakin sendu…
“mmm… ibu gak marah..? gimana nanti kalo ada yang lihat bu… bisa gawat dong… pak Kardi juga bisa marah besar bu…” jawab Zaki.

Tanpa menjawab bu Lily bangkit berdiri, namun karena tidak merapikan pakaiannya, otomatis baju terusan yang dipakai jadi melorot jatuh ke lantai. Zaki terpana melihat tubuh indah itu, sedikit berlemak di perut dan bokongnya namun itu malah menambah seksi lekuk tubuh bu Lily. Kemudian dengan tenang bu Lily melangkah ke arah pintu kamar dan menguncinya. Saat berjalan membelakangi Zaki itu nampak gerakan bokong bu Lily naik turun, dan perasaan Zaki semakin tegang dengan nafsu yang semakin tak tertahankan, demikian juga saat bu Lily berbalik dan melangkah kembali menuju tempat tidur, Zaki tidak melepaskan sedikit pun gerakan bu Lily. Sampai bu Lily berdiri dekat di depan Zaki dan berkata,”kamarnya udah di kunci Zack, dan gak ada yang akan mengganggu….”

Zaki tidak langsung menjawab, menghidupkan tape dengan suara yang agak besar, setidaknya untuk menyamarkan suara yang ada di ruangan. Bu Lily kembali duduk di pinggiran tempat tidur, dan membuka bra yang digunakannya. Zaki mendekat dan duduk di samping bu Lily… hmmm… nampak payudara itu masih montok dan kenyal, ingin Zaki langsung melahap dengan mulut dan menjilatnya.

Bu Lily yang memulai gerakan dengan melingkarkan lengannya ke leher Zaki, menarik wajah dan langsung melumat bibir Zaki dengan nafsu yang membara. Zaki membalas dengan tidak kalah sengit, sambil meladeni serangan bibir dan lidah bu Lily, tangan Zaki meremas payudara montok milik bu Lily. Desahan nafas menderu di seputar ruangan, diselingi alunan musik menambah gairah. Setelah beberapa saat, bu Lily mendorong lembut badan Zaki, menyudahi pertempuran mulut dan lidah, dengan nafas yang memburu. Zaki mendorong lembut tubuh bu Lily, berbaring terlentang dengan kaki tetap menjuntai di pinggiran tempat tidur. Dada yang penuh dengan gunung kembar itu seakan menantang dengan puting yang telah tegang. Tanpa menunggu lagi Zaki melaksanakan tugasnya menjelajahi gunung kembar itu mulai dari lembah antara, melingkari dan menuju puncak puting. Dengan gemas Zaki menyedot dan memainkan puting susu itu sambil tangan meremas payudara kembarannya ………………… “HHHH…. AHHH….MMMH….”suara bu Lily mulai kencang terdengar, desahan-desahan nikmat yang semakin menggairahkan. Zaki melanjutkan penjelajahan dengan menyusuri lembah payudara menuju perut dan sebentar memainkan lidah pada udel bu Lily yang menggelinjang kegelian.

Zaki menghentikan penjelajahan lidah, kemudian dengan cekatan menarik celana dalam bu Lily, melepaskan dan membuang ke lantai. Dengan spontan bu Lily mengangkat kaki ke atas tempat tidur dan memuka lebar pahanya, terlihat gundukan vagina dengan rambut-rambut yang tertata rapi. Zaki mulai kembali aksi dengan menjilati menyusuri paha bu Lily yang halus mulus, terus mendekat ke selangkangan menemui bibir vagina yang mulai mengeluarkan cairan senggama. Tanpa menunggu lama, Zaki menyapu cairan senggama itu dengan lidahnya dan meneruskan penjelajahan lidah sepanjang bibir vagina bu Lily dan sesekali menggetarkan lidah pada klitorisnya yang membuat bu Lily mengerang kenikmatan,”AHHHH…. MMMMH… HHH… Zack….UHH…”desahan birahi yang memuncak dari bu Lily membuat Zaki semakin bersemangat dan sesekali lidah di julurkan mencoba masuk ke liang senggama yang menanti pemenuhan itu.

Setelah beberapa menit Zaki mengeksplorasi liang kewanitaan itu, nampaknya bu Lily tidak sabar lagi menuntut pemenuhan hasrat birahinya,”Zack…. Ayo sayang… masukkin Zack… hhhh…mmmmh.” Suara bu Lily ditingkahi desahan-desahan yang semakin kencang.

Dengan tenang Zaki menyudahi penjelajahan lidah dan bersiap bertempur yang sesungguhnya. Dengan sekali tarik lepaslah handuk yang melilit di pinggang dan bebas mengacung penis dengan bagian kepala yang merah mengkilap. Bu Lily semakin membuka lebar pahanya, besiap menanti pemenuhan terhadap liang wanitanya. Zaki naik ke tempat tidur dan langsung mengarahkan batang penis ke arah vagina bu Lily yang dengan sigap lansung meraih dan meremas batang kemaluan Zaki dan membantu mengarahkannya tepat ke liang vaginanya.

Dengan sekali dorongan penis Zaki amblas sampai setengahnya. Zaki menahan gerakan sebentar menikmati prosesi masuknya penis yang disambut desahan bu Lily,” AHHH….TERUSKAN ZACK….AHHH.” kemudian dengan meresapi masuknya penis sampai sedalam-dalamnya. Setelah dorongan pertama dan batang zakar yang masuk seluruhnya barulah Zaki memompa menaik turunkan pantat dengan irama beraturan seakan mengikuti irama musik yang terasa semakin menggebu dan hot.

Zaki bertumpu pada kedua siku lengan sedangkan bu Lily mencengkam punggung Zaki, meresapi dorongan dan tarikan penis yang bergerak nikmat di liang senggamanya. Suara desahan bercampur aduk dengan alunan musik dan peluh mulai bercucuran di sekujur tubuh,”AH..AH..AH..MMH…MHH…HHHH.” tak hentinya desahan meluncur dari bibir Zaki dan bu Lily. Sesaat Zaki menghentikan gerakan untuk mencoba mengambil nafas segar, bu Lily memeluk Zaki dan menggulingkan badan tanpa melepas penis yang tetap berada di liang vaginanya. Dengan posisi di atas dan setengah berjongkok, bu Lily memompa dan menaikturunkan pantatnya dengan badan bertumpu pada lengan. Sesekali bu Lily memutar pantatnya dan kemudian memasukkan batang zakar Zaki lebih dalam. Zaki tak diam saja, tangan meremas kedua payudara yang menggantung bebas dan menarik-narik puting susu bu Lily. Suasana makin membara dengan peluh yang bercucuran, sampai saat bu Lily seperti tak sanggup melanjutkan pompaan karena birahi yang hendak mencapai puncak pemenuhan. Dengan sigap Zaki membalikkan posisi, bu Lily kembali berada di bawah, dengan mempercepat tempo dorongan Zaki meneruskan pertempuran. “Zack…AHH..AH..AH..UH…TERUS ZACK…. AHHH…AHH IBU SAMPAI…ZACK….AHHHHHHHHH… MMMMMHHH.” Setelah teriakan tertahan bu Lily mengatup bibirnya menikmati orgasme yang didapat, tubuhnya sedikit bergetar. Zaki merasa vagina yang mengalami orgasme itu berkedut-kedut seperti menyedot zakarnya.Zaki menikmatinya dengan memutar –mutar pantatnya dan memasukkan lebih dalam lagi batang zakarnya, dan terasa ada dorongan kuat menyelimuti batang zakarnya, semakin besar dan sesaat Zaki kembali mendorong batangnya dengan cepat dan saat terakhir menarik keluar batanga zakarnya dan melepaskan air maninya di atas perut bu Lily…. Yang dengan cepat meraih penis Zaki dan mengocoknya sampai air mani itu berhenti muncrat, dengan lembut bu Lily mengusap penis yang mulai turun ketegangannya. Zaki membaringkan tubuhnya disamping bu Lily. Terdiam untuk beberapa saat.

Bu Lily bangkit duduk meraih kain di pinggiran tempat tidur dan menyeka sisa air mani di perutnya. Kemudian dengan manja membaringkan tubuhnya diatas Zaki. “makasih ya sayang… ini rahasia kita berdua… I love u Zack,” bisik mesra bu Lily di telinga Zaki.

“mmm…baik bu…”belum sempat Zaki menyelesaikan ucapannya, jari telunjuk bu Lily menempel di bibirnya, “kalo lagi berdua gini jangan pangil ibu dong…”ucap bu Lily manja.

“iya sayang….” Balas Zaki, senyum manis merekah di bibir seksi bu Lily.

Setelah itu dengan cepat Zaki dan bu Lily merapikan pakaian, dan sebelum meninggalkan Zaki, bu Lily berbisik mesra,”sayang… tar malem suamiku gak ada di rumah….. aku tunggu di kamar ya… berapa ronde pun dilakoni buat Zaki sayang.” Sambil berpelukan mesra, Zaki menyanggupi ajakan bu Lily.

Hari Yang Penuh Keindahan

Aku termasuk orang yang bisa dibilang maniak dalam hubungan seksual. Aku pun mampu bertahan lama dalam menghadapi lawan jenisku. Untungnya aku tergolong pendiam. Sehingga orang tetap mengenalku sebagai Kundalini yang pendiam dan memang aku minder dan kurang banyak berteman. Selama ini aku menjalin hubungan dengan temanku yang bernama Prast. Prast tidak terlalu good looking, namun bisa dikatakan point tujuh, berkulit gelap, tinggi kurus. Bulu matanya kata teman-temanku indah seperti bulu mata cewek. Namun ada sesuatu yang lebih dari sekedar tampilan fisik. Setelah membaca ceritaku, mungkin anda akan paham apa yang dinamakan pria idaman, bagaimana definisinya. Mungkin ini pulalah yang membuat dia banyak mempunyai teman wanita, yang terus terang terkadang (meski jarang) aku agak sedikit cemburu. Menurut ceritanya, dia hanya telah pacaran dengan beberapa cewek, namun kurasa pasti lebih dari puluhan. Dengan dia pulalah aku pertama kali mengenal hubungan seks dan ternyata aku sangat menyukainya. Kami melakukannya hampir setiap malam.
Peristiwa ini berawal 3 tahun yang lalu ketika aku masih kuliah. Waktu itu aku ke rumah Prast. Seperti biasa kami nonton film di rumahnya. Kebetulan waktu itu Prast punya film bagus yang judulnya Powder. Kami rebahan sambil ngobrol. Sementara Prast asyik merokok. Selama ini, hubunganku hanya sebatas snogging, necking atau petting saja. Tidak pernah intercourse. Kalaupun ada yang harus disebutkan lagi, paling heavy petting saja. Namun siang itu terjadi sesuatu yang tidak kami perkirakan sebelumnya. Entah siapa yang memulai, aku atau Prast. Tapi kami saling berpagutan. Sementara tangan Prast masuk ke hem yang kukenakan dan meremas-remas payudaraku.
Satu yang kusukai dari Prast adalah dia selalu membuka bra yang kukenakan tanpa menggunakan tangan, tetapi menggunakan gigi. Itupun tanpa perlu melepas baju yang kupakai. Dia biasanya menggigit hook braku hingga lepas. Aku menyukainya ketika giginya terasa menyentuh punggungku.
Tangan Prast sekarang tidak lagi cuma bermain di payudaraku, namun sudah mulai turun membelai pusarku. Bibirnya pun meniup-niup pusarku. Geli rasanya, namun sangat merangsang. Lidahnya menjilati bulu-bulu yang ada di atas kemaluanku. Bolak-balik dari pusar ke atas kemaluanku. Aku paling suka jika Prast melakukan hal ini. Terutama waktu lidahnya menari menjilati sisi atas, kiri dan kanan dekat kemaluanku. Nikmatnya tidak terkira. Akupun mulai meremas-remas batang kejantanan Prast. Dia sangat menyukainya. Tanganku merogoh masuk ke dalam jeans-nya. Tak puas dengan hanya merogoh, kubuka dan kulepaskan celananya. Celana dalamnya kelihatan penuh dan ujung kemaluannya nongol dari celana dalamnya. Aku tertawa kecil melihatnya, kusentuh dengan menggunakan ujung jariku, Prast menggeliat kegelian dan cekikian. Prast menindihku dan kami bergumul di atas karpet.
Sejauh ini kami hanya bermain sperti ini. Hanya menggesek-gesekkan kemaluan kami tanpa melakukan intercourse. Namun siang itu rupanya lain. Aku meraih celana dalam Prast dan melepasnya, dan Prast pun berbuat demikian padaku. Celana dalamku lepas sudah, sementara baju masih kupakai. Prast sendiri pun demikian. Praktis pusar ke bawah, kami bebas.
Kembali Prast menindihku dibarengi dengan ciuman-ciuman yang mesra. Badanku terasa panas bergelora. Kurasakan badan Prast hangat menindihku. Batang kemaluan Prast menggesek-gesek di belahan kemaluanku. Prast mencoba menusukkannya. Aku pun, jujur saja sudah ingin melakukan persetubuhan, namun aku takut hamil. Tetapi akhirnya Prast membujukku untuk sedikit menggesekkan kepala kemaluannya ke lubang kewanitaanku. Aku menurut saja. Kepala kemaluannya terasa hangat menyentuh klitorisku. Nikmat kurasakan kegelian yang memuncak ketika kepala kemaluan itu menyentuh lembut bibir kewanitaanku. Kami tidak tahan lagi akan sensasi yang tercipta oleh gesekan itu.
Tanpa kusadari, gerakan tubuhku rupanya membuat kepala kemaluan Prast tidak saja menyentuh klitorisku, namun kini telah penetrasi lebih jauh masuk ke lubang kemaluanku. Aku kaget, berusaha menolak. Namun, dorongan untuk mencoba lebih jauh akibat kenikmatan itu telah membutakanku. Kupikir sebentar lagi saja, ah. Tanggung. Aku kaget setengah mati ketika kutarik kemaluan Prast terlihat darah di kepala kemaluannya. Kupikir ini pasti darah keperawananku. Aku menangis, menyesal. Kenapa tidak berhenti waktu kemaluan Prast hanya menyentuh klitorisku. Kembali aku menangis dan menangis menyesalinya. Prast mencoba meredakan tangisku. Namun aku tetap merasa tidak tenang. Akhirnya kuputuskan untuk pulang saja ke kost-ku.
Seminggu setelah kejadian itu, aku berpikir bahwa aku sudah tidak perawan lagi. Kenapa juga waktu itu aku berhenti sebelum mengalami kenikmatan. Itu juga tidak akan mengubah keadaan. Menangis pun percuma karena kenyataan akan tetap sama. Akhirnya waktu malam itu Prast datang, aku berhubungan badan dengannya. Lagipula aku ingin menikmatinya. Aku tidak mau membohongi diri sendiri. Kami melakukannya di kursi tamu di teras kost-ku yang gelap.
Aku memang lebih suka memakai rok dibanding dengan celana kalau berada di rumah. Karena itulah, mudah saja bagiku untuk bersenggama di teras. Terlebih lagi, kalau di kost-ku, apalagi kalau sedang kencan dengan Prast, aku memang jarang memakai celana dalam. Aku lebih senang yang praktis seperti ini. Meskipun selama ini kami hanya heavy petting saja atau kubiarkan Prast meraba-raba kemaluanku. Namun malam ini aku memutuskan untuk melakukannya karena aku pun sudah tidak perawan, kenapa tidak aku nikmati saja hal ini.
Prast memang ahli dalam foreplay, pandai sekali dia merangsangku sebelum akhirnya kami bersenggama. Rambutku yang panjang sepinggang dinaikkannya dan diciuminya punggung leherku. Turun sampai ke hook bra-ku. Digigitnya pelan dan dilepaskannya dengan mulut. Bagian inilah yang paling kusuka. Gigitannya terasa sangat mesra di punggungku, diangkatnya kaosku dan tangannya terasa mesra membelai punggungku. Aku benci dengan orang yang terburu-buru meremas payudara. Mereka tidak bisa menghargai keindahan seni bercinta.
Aku duduk di atas Prast. Aku merasakan kemaluannya sudah mendesak tegang. Kuraihkan tanganku ke belakang dan menyusup masuk ke celananya. Aku sudah hafal ini. Agak susah memang, namun terasa asyik sekali ketika ujung jariku menyentuh kepala kemaluannya. Perlahan diangkatnya tubuhku. Secara reflek akupun mengangkat rokku sedikit. Dalam posisiku agak sulit untuk melepas kancing celana dan menurunkan ritsluitingnya. Prast membantuku. Kemaluannya kini tegak tinggi. Ototnya tampak menggelembung di keremangan terasku yang terpisah tirai bambu dengan jalan raya yang ada di atas kost-ku.
Aku segera menurunkan tubuh sembari membimbing kemaluan Prast ke liang kewanitaanku. Aku turun perlahan, berusaha menikmati segala keindahan yang tercipta dari fantasi cinta kami. Kurasakan agak sakit ketika pertama kali kemaluannya menyeruak masuk ke lubang surgaku. Untungnya kemaluanku sudah basah akibat foreplay yang dilakukannya, sehingga tidak terlalu perih waktu batang kejantanannya penetrasi masuk ke liang senggamaku. Uuugh, nikmatnya selangit. Kurasakan tubuhku memanas dan semakin panas serta melambung tinggi.
Pelan-pelan aku mulai menaik-turunkan tubuhku di atas Prast. Prast pun berusaha mengimbanginya dengan menusukkan batang kemaluannya dari bawah. Sodokan Prast terasa menyakitkan, tetapi juga nikmat. Aku mencoba menurunkan tubuhku secara penuh agar kemaluan Prast masuk semua ke dalam liang senggamaku, namun Prast bilang itu menyakitkan biji pelirnya. Kupikir benar juga. Akhirnya aku memintanya untuk menyodokkan kemaluannya keras-keras dan seluruhnya ke dalam liang kenikmatanku, karena kupikir dialah yang tahu persis apakah itu menyakitkan bijinya atau tidak.
Ternyata kenikmatan yang tercipta akibat sodokan itu sangat hebat. Aku menggeliat-geliat, sementara Prast tetap mencoba menahan tubuhku agar tidak terlalu banyak bergerak dan jatuh ke tubuhnya. Aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dengan hebat. Gejolak yang kurasa ketika kami hanya melakukan gesekan kemaluan kalah jauh bila dibandingkan dengan kenikmatan yang tercipta waktu batang kejantanan Prast penetrasi ke lubang kemaluanku. Kalau saja aku tahu kenikmatan yang tercipta sedahsyat ini, pasti aku sudah melakukannya dari dulu-dulu. Lagian apa sih enaknya mempertahankan keperawanan.
Kurasakan batang kejantanan Prast menyodok-nyodok dengan kasar. Aku mencoba bergerak memutar, karena gatalnya kemaluanku akibat sodokannya. Tanpa kusadari, ternyata rotasi tubuhku semakin memperhebat kenikmatan yang kurasa. Selama kurang lebih 15 menit batang kejantanan Prast serasa bagai poros yang mengaduk-aduk isi kemaluanku. Prast pun meracau tidak karuan. Aku semakin menggila akibat kenikmatan itu. Putaranku makin kupercepat, searah jarum dan berbalik melawan jarum jam berbarengan dengan gerakan sodokan Prast. Wow, nikmatnya, bung. Anda harus mencoba hal ini dengan pasangan anda.
Prast memintaku untuk menghentikan sebentar permainan gilaku ini. Aku berpikir, aku memang baru sekali ini melakukannya, tetapi memang bercinta hal yang alamiah. Tanpa belajar pun aku rupanya bisa melakukannya. Sejenak kami terengah-engah dan terperangah oleh permainan kami sendiri. Aku baru tahu, permainan gaya inilah yang nantinya dikatakan Prast sebagai gaya anjing (doggy style). Hanya saja kami melakukannya tidak dengan posisi tubuhku bersandar ke tembok/kursi atau berdiri empat kaki seperti anjing dan ditusuk dari belakang. Kami melakukannya dengan dengan cara duduk, yang ternyata nantinya kuketahui memiliki kenikmatan yang sama namun tidak menyakitkan seperti jika dilakukan dengan posisi tubuh bersandar ke tembok/kursi atau apapun.
Kami hampir tidak percaya kami bisa bercinta sehebat itu. Prast dan aku terdiam sejenak, mencoba mengatur nafas dan menenangkan diri akibat sensasi yang begitu intens dari persenggamaan itu. Kalaupun kami mengetahuinya, kami hanya menontonnya dari film-film yang memang sering kami tonton. Namun mengalaminya sendiri adalah satu hal lain yang benar-benar berbeda. Tidak heran kalau banyak orang yang gemar kawin kalau memang kenikmatannya seperti ini. Tidak heran pula kalau banyak kasus seks pranikah, karena memang enak.
Setelah sekitar 5 menit menenangkan diri dan mengatur nafas, Prast menyuruhku untuk duduk di sampingnya. Kemudian dia menghadap ke arahku dan menusukkan kembali batang kejantanannya ke kemaluanku. Agak susah memang, karena teras kost-ku gelap. Kubimbing batang kejantanannya ke mulut kemaluanku dan secara reflek Prast langsung menusukkan kemaluannya. Oooh, nikmatnya waktu kurasakan kemaluan Prast menggaruk dinding dalam lubang kemaluanku. Kini aku berada di bawah, dengan posisi duduk mengangkang membuka kedua pahaku lebar-lebar. Prast kembali menusukkan dan menggoyang seperti yang kulakukan waktu aku berada di atasnya. Hujaman itu terasa menggelitik dinding kemaluanku yang semakin gatal. Basah makin kurasakan kemaluanku oleh cairanku yang keluar melumasi bagian dalam.
Aku turut mencoba menggoyangkan pantatku, namun agak sulit, karena aku di posisi bawah. Akhirnya aku mencoba mengimbanginya dengan menggoyang ke kiri kanan saja. Tangan Prast yang tadinya bertumpu pada pegangan kursi panjang kuangkat agar meremas payudaraku. Aku sudah tidak tahan lagi. Sensasi ini sudah demikian menggila. Pundak Prast kugigit. Kepalaku terhentak ke kanan dan kiri. Kukibas-kibaskan rambut panjangku. Tak puas, kujambak rambutku sendiri akibat kenikmatan yang kurasa.
Sudah setengah jam lebih kami bersetubuh, namun belum tampak tanda-tanda Prast akan mengakhirinya. Sementara aku sudah gilanya menikmati setiap tusukan batang kejantanannya yang disertai goyangan memutar. Kurasakan bagai tombak yang menghujam. Mengaduk-aduk seluruh syaraf nikmat yang ada dalam kemaluanku. Kalau tidak takut ketahuan oleh teman sekost, mungkin aku sudah berteriak-teriak, mengekspresikan segala kenikmatan yang kurasa.
Tidak tahan lagi aku mencapai puncak setelah sekitar 45 menit bersenggama. Entahlah, apakah itu tergolong lama atau tidak, namun kenikmatan yang kurasa tak mampu kutahan lagi. Dahsyat sekali waktu aku mencapai orgasme senggama pertamaku ini (kalau orgasme akibat gesekan saja sih aku sudah sering mengalaminya, itu pun setelah satu jam atau lebih). Basah kurasakan sampai pahaku, mungkin akibat cairanku yang meluap-luap. Aku menjambak rambutku sendiri. Kedua pahaku kurapatkan, kakiku mencengkeram pinggangnya dan menariknya, memaksanya untuk memasukkan batang kejantanannya secara penuh ke liang senggamaku. Nikmat sekali mencapai orgasme. Prast berbisik lembut agar aku menahan dan tetap bercinta. Anggukanku dibalasnya dengan tusukan tajam yang makin cepat. Kubiarkan saja dia mengobrak-abrik dinding kemaluanku. Pasrah, namun tetap berusaha mengimbangi dan menikmati sembari berharap semoga dia tidak langsung keluar.
Benar saja, baru setelah dua puluh menit aku orgasme, Prast baru mencapai orgasmenya. Dia meracau tidak karuan dan menggenggam pundakku kencang-kencang. Sakit, tapi kucoba menahannya dengan mengatupkan gigiku karena aku tahu Prast memerlukannya. Segera dicabutnya batang kemaluannya dari kemaluanku dan langsung dikocoknya di depanku. Spermanya muncrat dan ditumpahkannya ke payudaraku. Ada sebagian yang mengenai wajahku dan tembok di belakangku. Oooh, nikmatnya, waktu kurasakan hangat spermanya menyentuh kulit payudara dan wajahku. Langsung kuusap. Aku tidak mau begitu saja melewatkan kehangatan spermanya di atas puting payudaraku. Diciuminya aku, kubalas dengan pagutan mesra. Nikmat dan mesra sekali kami malam itu. Meskipun pemula, kini aku tahu teknik untuk menghindari kehamilan dengan mengeluarkan batang kejantanannya dari liang kewanitaanku dan mengocoknya untuk membantu Prast orgasme.
Pengalaman pertama bersenggama inilah yang mungkin akhirnya mempengaruhiku menjadi cewek yang bisa dikatakan gila seks. Bayangkan, kami melakukan ini dua sampai tiga kali setiap malam (kecuali kalau aku sedang menstruasi, tentunya) dengan berbagai gaya yang berbeda. Prast memang pandai dalam membuatku jadi pecinta yang gila, dan yang aku herankan, aku yang pendiam ini terbawa permainannya. Lebih-lebih lagi, kata Prast, dia kadang-kadang sampai heran dan kewalahan mengatasi kemampuanku bertahan dalam bermain seks selama lebih dari satu atau dua jam.
Pernah pada suatu hari, ketika itu kami sedang KKN di desa yang memang terpencil, kebetulan kami ditempatkan di desa yang sama, kami minta ijin untuk pulang ke kota, perguruan tinggi kami untuk mengurus proposal dana KKN. Kost-ku sepi karena KKN di universitasku memang dilaksanakan setiap musim liburan, akhirnya Prast memutuskan untuk menginap di tempatku. Kami bercinta seharian, baik di kamarku, ruang tamu, dapur ataupun kamar mandi. Selama tiga hari kami nikmati kebebasan itu dengan bercinta. Berbagai gaya kami coba karena gairah yang kami pendam hampir sebulan lebih di desa KKN tidak mampu melakukan percintaan.
Siang itu sebelum kami kembali ke desa KKN, kami bercinta sampai menjelang petang. Prast dan aku rebahan di ruang tamu sambil nonton TV. Namun berakhir dengan bergumul, saling mencium. Rangsangan yang dilakukannya sangatlah efektif. Kami yang waktu itu baru saja selesai mandi setelah bercinta, kini mulai terlibat foreplay lagi, yang tampaknya akan disusul dengan percintaan. Satu yang kucinta dari cowok ini adalah kepandaiannya melambungkan emosiku naik turun. Kadang dia bergerak cepat tanpa menghilangkan kemesraan, lalu menurunkan temponya begitu saja seolah tidak niat bercinta dan menungguku untuk aktif memulai percintaan.
Begitu juga siang itu, setelah merangsangku habis-habisan, tiba-tiba dia berhenti diam mematung. Aku yang sadar akan hal itu segera bertindak aktif sebelum suasana menjadi dingin. Aku harus menciumnya dan melepas celananya tanpa menggunakan tangan. Fantasi kami memang cukup liar, kugigit lepas kancing bajunya satu persatu, kuciumi seluruh dada dan perutnya. Lidahku menari menyusuri sampai ke pusar dan kususul dengan kancing celananya. Agak sulit memang, karena tanganku kubiarkan saja diremas oleh Prast. Setelah kancing celana lepas, barulah celana itu kulepaskan dan baju Prast kulepas.
Prast menyuruhku untuk mengambil bantal dari kamarku. Aku heran, gaya apa lagi yang akan kami lakukan, namun kuturuti saja. Aku disuruhnya untuk rebah dan ternyata bantal itu ia pakai untuk mengganjal pantatku. Akibatnya, kemaluanku kurasakan mengembang dan terbuka lebar. Aku heran, tahu darimana dia tentang hal ini. Perlahan, diciuminya pusar dan daerah sekitar kiri dan kanan kemaluanku. Rasanya sungguh menggelitik. Aku gemas dan meraih kepalanya lalu mengarahkannya ke liang senggamaku. Setelah puas menciumi lalu dia mulai menjilati bagian dalam kemaluanku. Dia menyuruhku untuk tidak memakai tanganku. Uuugh, rasanya ingin rasanya aku menempeleng dia akibat siksaan kenikmatan yang amat sangat. Aku tidak mampu berbuat apa-apa. Tanganku hanya mampu mengepal dan mengejang di samping tubuhku, sementara dia dengan bebasnya menjilati klitorisku dan bibir kewanitaanku yang terbuka lebar. Dia tiup lubang senggamaku dengan mesranya, dingin. Kembali aku terbuai, karena tiupannya disusulnya dengan gigitan pada bibir kemaluanku yang kurasakan makin gatal dan panas.
Akhirnya saat yang kunanti tiba juga. Dia mulai bangkit dan dengan mudahnya memasukkan batang kejantanannya ke lubang senggamaku yang terbuka lebar menganga. Tanganku mengangkat ke atas sementara Prast bertumpu pada kedua tanganku. Teriknya siang itu jadi bertambah panas dengan percintaan kami berdua. Kami terdiam beberapa saat lamanya tepat setelah Prast melakukan penetrasi. Aku hapal dia, Prast sedang berusaha menikmati kehangatan bagian dalam kemaluanku. Memang, waktu kami berhenti dan diam, aku bisa merasakan denyutan batang kejantanan Prast dalam lubang senggamaku. Sementara lubangku pun juga berdenyut-denyut memijit batang kemaluannya. Keadaan diam itu justru menambah kenikmatan. Prast memang pandai dalam bercinta. Dia pulalah yang mengajariku cara untuk menggerakkan otot kemaluanku, terutama bibir dan dinding kemaluanku, sehingga aku bisa memijit batangannya tanpa harus melakukan gerakan apapun. Inilah yang kami lakukan siang itu. Mencoba menikmati dalam keadaan diam dengan merasakan denyutan batang kemaluan Prast dan pijitan liang senggamaku.
Setelah beberapa lama, Prast akhirnya bergerak juga naik turun menusukkan batangannya ke lubang senggamaku. Aku secara naluriah mengimbanginya dengan menggoyangkan pantatku. Ternyata bantal yang di taruhnya di pantatku sangat menolong. Biasanya agak susah untuk mengoyangkan pantatku akibat tekanan Prast, namun kali ini gampang saja, karena relatif lebih licin. Hampir lebih dari satu jam kami melakukannya sebelum akhirnya Prast mengangkatku untuk berganti gaya.
Tanpa melepas senjatanya dari liang kemaluanku, Prast mengangkat tubuhku yang relatif kecil (beratku 41 kg). Agak susah memang, tapi dia memang pintar. Waktu dia mencoba mengangkat tubuhku, otomatis aku memeluknya erat dan ini membuat batang kemaluannya tenggelam lebih dalam ke lubang senggamaku. Sementara itu, waktu tubuhnya telah tegak dan aku menggelayut memeluk lehernya, tangannya mengangkat pahaku agar burungnya tidak lepas dari sarangku. Betisku (sebenarnya tungkai) kulingkarkan ke lehernya untuk membantu dia agar aku tidak terjatuh. Dan waktu dia mencoba memperbaiki posisi berdirinya sembari memanggulku, inilah yang kurasakan sangat intens. Batang kejantanannya dengan kasar menyodok kelaminku karena memang tidak ada kontrol waktu tubuhku diangkatnya agar posisi kami lebih baik. Lalu dengan kasarnya tubuhku dilambung-lambungkan pelan. Hujaman batang kemaluannya kurasakan sangat menyiksaku. Tetapi justru tusukan yang terasa kasar, dalam dan tidak terkontrol ini malah menambah intens ketegangan kemaluan kami berdua.
Tetap dalam posisi yang sama, disandarkannya punggungku ke tembok. Waktu dia berjalan ke tembok, karena aku masih menggantung dan kemaluannya masih tetap tertancap di lubang senggamaku, maka sangat terasa hentakan ketika Prast melangkah dan ini membuatku makin gila. Setelah bersandar barulah aku agak tenang. Kami mencoba berhenti sebentar untuk menikmati momen ini. Kurasakan batang kemaluan Prast berdenyut naik turun meskipun dia dalam posisi diam. Sementara kurasakan lendirku turun melumasi batang kejantanan Prast. Kemaluanku pun terasa berdenyut-denyut.
Kulihat Prast merem melek menikmati remasan lubang senggamaku atas batang kejantanannya. Lembut aku diciumnya. Karena sulit untuk mendapatkan kenikmatan waktu bersandar di tembok, aku meminta Prast agar menggendongku keliling ruang tamu. Sebenarnya ini hanya alasanku saja, karena aku telah dibutakan oleh sensasi kenikmatan kasarnya sodokan senjatanya yang tadi kurasakan waktu dia memanggulku. Prast mengiyakan dan langsung mengangkat kembali tubuhku dengan memperbaiki sanggaan atas pahaku dan membawaku berjalan keliling ruang tamu. Pelan saja, pintaku, yang dijawabnya dengan anggukan. Wajahnya tenggelam diantara kedua belah payudaraku yang tidak terlalu besar (dada 34B, lingkar pinggang 27″).
Aduh, nikmatnya merasakan tusukan kasar dalam gerakan jalan lambat seperti ini, batinku. Makin lama, kurasakan jalan Prast bertambah cepat dan hentakan yang terasa makin kuat. Tempo permainan itupun makin cepat. Tanganku makin erat melingkari lehernya. Aku tidak mau jatuh. Sedangkan aku juga tidak mau begitu saja Prast menanggung berat badanku dengan kedua lengannya. Hentakan batangannya makin lama makin hebat. Aku mengerang. Kutancapkan kukuku di punggungnya. Aku hampir orgasme. Inikah kenikmatan cinta?
Setelah mengelilingi ruang tamu empat kali aku akhirnya mencapai orgasme yang sangat nikmat. Direbahkannya aku di meja dapur dan dibiarkannya aku menikmati puncak kenikmatan itu. Tusukannya dipercepat di atas meja itu. Kakiku yang sekarang terangkat di pundaknya, mengejang. Sementara tanganku berpegangan erat pada kedua sisi meja dan tangan Prast bertumpu pada pundakku. Tiba-tiba dicabutnya batang kemaluannya dari lubang surgaku dan dikocoknya di hadapanku. Rupanya ia pun hampir mencapai orgasme. Tak lama kemudian, dimuncratkannya spermanya ke pusarku. Ada sekitar tujuh kali semburan dahsyat disertai beberapa kali muncratan sisa spermanya. Bahkan wajahku pun bersimbah sperma yang tidak sengaja muncrat, bercampur dengan keringat akibat teriknya matahari siang itu dan senggama kami. Puas rasanya siang itu.
Satu hal lagi yang kusukai dari Prast adalah kekuatannya bersenggama. Meskipun telah beberapa kali bersenggama dan memuntahkan spermanya, ia masih kuat untuk melakukannya lagi ketika kami mandi berdua siang itu. Butuh waktu dua jam bagi kami untuk mandi dan bersenggama lagi setelah lebih dari satu jam bersenggama sebelumnya siang itu. Kami mandi di dua kamar mandi yang berseberangan tanpa menutup pintu sebelum akhirnya memutuskan untuk mandi bersama dan bersetubuh lagi di kamar mandi.
Pernah suatu kali kami mencoba main dengan gaya kasar. Kata Prast ini adalah “bondage” atau penyiksaan. Beberapa kali aku pernah melihatnya waktu kami nonton film blue jepang. Apa salahnya ini kami praktekkan pula.
Waktu itu dua hari setelah ulang tahunku ke duapuluh tiga di bulan september. Mahasiswa baru biasanya masuk sekitar bulan agustus. Sementara mahasiswa lama baru mulai kuliah sekitar awal september. Itupun masih banyak yang bolos hingga akhir september, bahkan lebih. Kost-ku memang masih sepi, karena mayoritas isinya mahasiswa senior. Sebenarnya bisa saja kami bercinta di rumah Prast, karena ia memang tinggal sendirian. Tetapi kami lebih suka melakukannya di kost-ku.
Malam itu, hari rabu sekitar jam delapan lebih (karena layar emas di TV swasta sudah mulai), kami bercinta. Kali ini tanpa foreplay, Prast menyuruhku untuk mengambil sabuk. Aku turuti dan kuambil sabuk kimonoku. Ternyata sabuk kain itu dia gunakan untuk mengikat tanganku. Direbahkannya aku di tempat tidurku. Tanganku menghadap ke atas. Diciuminya aku dengan kasar. Seperti yang telah kukatakan, kami berdua memiliki fantasi seksual yang liar. Meskipun aku pendiam, namun urusan seks aku sangat berpikiran progresif. Kalau ada sesuatu yang baru, kenapa tidak dicoba untuk sekedar menyegarkan suasana.
Prast masih duduk di atas tubuhku, ketika tiba-tiba dirobeknya bajuku dengan kasar. Aku menyukai gayanya. BH-ku pun direnggutnya. Padahal biasanya dia menggigit hook BH-ku sampai lepas. Kali ini sangat berbeda. Setelah itu, giliran rokku yang ditariknya ke bawah hingga kancingnya pun lepas. Seperti telah kukatakan, aku lebih senang memakai rok tanpa celana dalam. Kini aku telah telanjang bulat di hadapannya.
Dia lalu berdiri dan melepas kaos serta celananya satu persatu hingga polos. Kulihat batang kemaluannya mengacung tinggi di atasku. Oooh, indahnya. Dia turun dari kasur dan tubuhku diseretnya hingga kakiku berjuntai di pinggir tempat tidur. Posisi pantatku yang berada di bibir tempat tidur membuat kemaluanku merekah lebar. Sementara tanganku masih terikat ke atas. Dengan kasarnya dipukulkannya batang kemaluannya ke liang kewanitaanku. Sakit sekali rasanya, tapi aku telah terbuai oleh kenikmatan yang akan kunikmati.
Pelan-pelan dia naik ke ranjang dan ditamparkannya kembali batang kemaluannya ke pipi kanan dan kiriku berulang-ulang. Turun dari ranjangku, diambilnya ikat pinggangnya yang kubelikan untuk hadiah ulang tahunnya. Ujung ikat pinggang yang terbuat dari logam itu dipukulkannya ke perut dan kemaluanku. Nikmat sekali rasanya meskipun sakit. Aku mengaduh kesakitan, namun memintanya untuk terus menyakitiku. Tiba-tiba dimasukkanya dua jarinya ke dalam lubang kewanitaanku dan dihujam-hujamkannya dengan kasar. Sementara tangan kanan-nya digunakannya untuk menjambak rambutku. Kini posisiku seperti udang goreng, melengkung. Satu karena jambakan Prast, dan yang satu lagi karena hunjaman jarinya atas liang senggamaku.
Tidak puas dengan dua jari, kini tiga jarinya dimasukkan ke lubang senggamaku. Jari telunjuk dan manis masuk ke lubang, sementara jari tengahnya menggosok-gosok klitorisku, terasa geli setengah mati. Nikmat bercampur geli, namun aku tidak bisa berbuat-apa-apa karena terikat. Tanganku yang terikat tidak memungkinkan aku bergerak bebas. Kakiku menendang ke sana ke mari. Tiba-tiba Prast menghentikan hujamannnya. Diambilnya sabuk yang tadi dipergunakannya untuk mencambukku. Diikatnya kakiku dengan sabuk itu. Satu ke kaki tempat tidur kiri dan kaki kananku diikatnya dengan tali tasnya ke kaki kanan ranjangku. Kini aku tergeletak mengangkang, terikat, telanjang dan tidak berdaya bagaikan wanita jepang dalam film blue.
Prast kulihat kembali mendekati diriku dan menciumi liang kewanitaanku yang terbuka lebar. Diambilnya bantal dan diganjalkannya ke bawah pantatku. Waktu diganjalkannya bantal itu, karena kakiku terikat, otomatis ikut tertarik dan pergelangan kakiku terasa sakit sekali. Kembali ia naik ranjangku dan disodorkannya batang kemaluannya ke wajahku. Posisinya yang berada di atas tubuhku persis tidak memungkinkanku untuk menghindar. Aku tahu, aku harus mengulumnya seperti layaknya permen saja. Dulu waktu pertama kali aku harus mengulum batang kemaluan Prast, terus terang aku merasa jijik. Tetapi Prast memang mungkin telah mempersiapkan segalanya. Biasanya sebelum memintaku mengulum batang kemaluannya, dia ke kamar mandi dulu untuk mencuci barangnya hingga bersih. Sehingga waktu aku pertama kali mengulumnya tidak terlalu merasa jijik.
Kinipun aku akan melakukannya lagi. Segera kujulurkan lidahku untuk menjilatinya. Aku merasa bagaikan anjing yang memohon pada tuannya untuk diberi makan. Aku jilati ujung batang kemaluannya. Prast merem melek kegelian karena nikmat. Ditariknya lagi batang kemaluannya dan dipukulkannya ke pipi dan mataku berulang kali. Aku mengaduh kesakitan, namun itu tidak akan menghentikannya, karena dia tahu aku menyukai dan menikmati rasa sakit yang kualami. Kusodorkan mulutku untuk mengulumnya, namun Prast kembali menyiksaku dengan jalan menaikkan posisi tubuhnya sehingga aku harus berusaha keras untuk dapat menggapai ujung batang kemaluannya. Tubuhku harus meregang, yang tentu saja kembali menyakitkan pergelangan kakiku meskipun kedua tanganku terikat bebas tidak ditalikan di kedua kepala ranjang.
Tiba-tiba saat tubuhku meregang ke atas mencoba menggapai batang kemaluannya, Prast menurunkan tubuhnya, sehingga tak ayal lagi seluruh batang kemaluannya yang sepanjang 17cm masuk memenuhi seluruh rongga mulutku dan menyentuh anak tekakku. Hampir aku muntah dibuatnya. Bagaimana tidak, kemaluannya yang kupikir cukup panjang itu masuk sampai ke tenggorokanku. Aku sampai tersedak dibuatnya. Segera kukatupkan bibirku ke dalam gigiku sehingga tidak akan melukai batang kemaluannya. Aku tahu ini karena pernah Prast marah karena gigiku menggores batang kemaluannya. Aku segera membasahi batang kemaluannya dengan ludahku, lalu kukulum keluar masuk dengan sangat tersiksa karena kakiku sakit terikat. Prast tidak tinggal diam, tubuhnya maju mundur (naik turun) memasukkan seluruh batang kemaluannya ke dalam mulutku. “Emppfffh!” Aku tersentak-sentak karena tenggorokanku terisi penuh oleh kemaluannya.
Dia tidak berhenti begitu saja. Tangannya terulur ke belakang dan ujung putingku ditariknya keras-keras. Akibatnya akupun secara reflek dengan bibir terkatup ke gigi menggigit kemaluannya. Mungkin inilah yang menyebabkan dia merasa begitu menikmati permainan ini. Kusedot keras-keras batang kemaluannya, seiring dengan mengerasnya putingku ditarik. Dicubitinya putingku agar hisapanku tambah kencang. Aku tahu apa yang dia sukai dan dia tahu apa yang kubutuhkan. Kenikmatan kasar.
Setelah beberapa lama dicabutnya batang kemaluannya dari mulutku dan kini aku mulai menjilati buah pelirnya. Aku sruput buah pelir yang berbulu tipis itu. Pernah satu kali Prast menamparku karena aku menyedotnya terlalu kencang. Kini, kuberanikan lagi untuk menyedotnya kencangkencang agar dia menamparku dan aku terpuaskan. Namun reaksinya berbeda. Bukan tamparan yang kuterima, tetapi tangannya meraih jauh ke liang kewanitaanku dan menepuknya keraskeras. Aku mengaduh kenikmatan.
Sekarang dia berdiri di atasku. Kulihat kemaluannya naik turun pertanda nafsu yang memburu tidak karuan. Nafasku pun tersengal-sengal karena ingin mendapatkan kenikmatan yang lebih dari sekedar mengulum batang kemaluan. Aku tertawa terkikik. Prast tersenyum, paham maksudku. Dia turun dari ranjang dan kembali memukulkan batang kemaluannya ke kemaluanku. Batang kemaluannya yang basah oleh ludahku dengan mudah menerobos liang kewanitaanku. Dihujamkannya dengan keras sehingga tubuhku terangkat naik ke atas ranjangku. Kembali kakiku terasa sakit karena tertarik oleh hentakannya itu. Jempolnya tidak diam, namun turut menekan dan memainkan klitorisku.
Aku semakin gila dan kepalaku terayun-ayun ke sana ke mari. Kenikmatan yang kurasa tak tertahankan lagi. Aku jebol dan mencapai orgasme yang teramat sangat tinggi. Baru kali ini aku merasa nikmat dan sakit dalam waktu yang bersamaan setelah lebih dari setengah jam bercinta, itupun itu tidak hanya satu kali saja. Karena Prast tidak menghentikan permainannya meskipun dia tahu aku sudah orgasme. Dia belum, itu yang dia pikirkan. Mau tidak mau aku harus tetap melayaninya. Hujaman demi hujaman yang disertai tekanan atas klitorisku kembali merangsangku dan membuat aku mampu mengimbangi permainannya.
Alat kelamin Prast tetap tegar menusuk lubangku dengan kasarnya. Berulang-ulang kulihat Prast membasahi jarinya dengan ludahnya dan menggunakannya untuk melumasi klitorisku. nikmatnya kurasa sampai ke ubun-ubun. Liang kewanitaanku kembali berlendir setelah agak kering karena orgasme telah lewat. Perih yang kurasakan kini hilang kembali berganti kenikmatan tusukan Prast yang disertai goyangan memutar. Batang kemaluannya kurasakan bagai bor tumpul yang mendera dinding kelaminku. Ujung batang kemaluannya terasa menyodok-nyodok dinding rahimku. (Kalau batang kemaluan anda cukup panjang, pasti inilah yang akan dirasakan oleh pasangan anda).
Tangan kanan Prast kembali beraksi. Kini dengan memukuli pantatku yang terganjal bantal. Sakit tapi nikmatnya terasa sekali, sementara jempol dan jarinya bergantian memainkan klitorisku dan batang kemaluannya menyodok liang kewanitaanku. Semakin sakit aku merasa semakin nikmat. Namun kami bukan pasangan masochis. Kami hanya sekedar bereksperimen dengan gaya bercinta. Aku kembali mengejang karena orgasme, sementara Prast kulihat masih tegar dan menikmati permainan ini. Dua kali sudah aku orgasme. Mungkin inilah yang disebut sebagai multi orgasme. Bahagia sekali rasanya memiliki pasangan yang mampu memuaskan nafsuku.
Prast pun sangat menyukai hal ini. Aku yang dianggap sebagai gadis desa pendiam dan rendah diri oleh teman-teman sekelasku di kampus sebenarnya adalah maniak seks. Sementara orang melihat Prast sebagai pemuda yang kekanak-kanakan karena kesenangannya akan kartun dan video game. Tidak seorang pun yang menyadari bahwa sebenarnya kami adalah pasangan yang sangat panas dalam bercinta.
Hampir dua jam sudah Prast meyetubuhiku dan belum tampak tanda-tanda dia akan orgasme juga. Kekuatan dan gaya bermain seksnya yang mungkin menjadikan aku makin cinta kepadanya. Kuturuti kemauannya untuk terus bersenggama sampai kapan pun.
Dua puluh menit kemudian barulah Prast mulai tampak goyah. Pertahanannya tampaknya akan segera jebol. Aku mulai memompa semangat berusaha memuaskannya. Tetapi apa yang terjadi justru sebaliknya, dia bertambah kencang dan aku bertambah lemah. Tidak, aku tidak boleh kalah, pikirku. Akhirnya aku kembali mengalami orgasme, mengejang keras, menggeretakkan gigi-gigiku karena tangan dan kakiku terikat. Baru lima menit sesudahnya Prast mencabut batang kemaluannya dan bergegas naik ke atas tubuhku dan menjepitkannya di antara kedua belah payudaraku yang ditekannya dengan tangannya sehingga mampu memberi kenikmatan laksana dinding liang kewanitaan. Digesekkannya maju mundur sampai akhirnya spermanya dimuntahkannya di atas payudaraku dan dimintanya aku mengulumnya setelah bersih tidak ada lagi sisa sperma yang menyembur.
Perlahan kurasakan batang kemaluannya mengecil dalam mulutku sehingga dapat kukulum penuh dalam mulutku beserta buah pelirnya. Kami tersenyum puas tepat jam sebelas. Berarti kami bercinta kurang lebih selama tiga jam. Entahlah itu tergolong lama atau tidak, yang penting aku terpuaskan sampai tiga kali dan untungnya aku juga bisa memuaskan Prast meskipun setelah itu kurasakan pergelangan kakiku terasa nyeri akibat ikatan yang terlalu kencang. Malam itu Prast akhirnya menginap di tempatku.
Setelah membersihkan badan, kami rebahan di kasur lipat tipis milik temanku sambil nonton berita menjelang tengah malam salah satu TV swasta. Tubuh kami masih terbalut handuk saja. Namun karena agak dingin, aku mengambil selimut di kamar dan berpelukan agar lebih hangat. Handuk kami lempar ke tempat pakaian kotorku. Kami terbiasa tidur telanjang berdua di rumah Prast. Di bawah selimut, kami berdua berpelukan, telanjang, sembari nonton TV. Segar sekali rasanya mandi setelah bercinta. Pikiranku jadi lebih tenang dan lebih jernih. Entah karena apa aku tak tahu.
Kira-kira jam setengah dua dini hari, saat program TV sudah habis, Prast membopongku ke kamar. Aku kecapaian setengah mati setelah tiga kali orgasme malam itu. Prast selalu memilih sisi kanan ranjang. Itu tidak masalah, karena aku bisa tidur di sisi manapun. Namun ternyata, aku tidak dapat tidur pulas karena Prast selalu menggangguku dengan rabaan-rabaan nakal di pusarku dan bagian atas kemaluanku yang terasa sangat menggelitik. Aku balas dengan mencoba meraba batang kemaluannya, tetapi, astaga, ternyata batang kemaluannya sudah tegang mengacung dan aku tertawa ngakak karena selimut kami jadi mirip tenda pramuka. Digesek-gesekkannya batang kemaluannya ke perutku. Aku yang tadinya kegelian kini jadi terangsang.
Tawaku berubah jadi sensasi aneh yang menjalari seluruh tubuhku. Akupun mulai bereaksi dengan mencari tangan Prast dan membimbing tangannya untuk meraba dan meremas payudaraku. Aku memang terkadang gampang panas. Mungkin ini pulalah yang disukai Prast dariku. Sementara tangannya meremas payudaraku, tanganku bergerak ke bawah, mencoba menggapai batang kemaluannya. Aku selalu menikmati momen-momen seperti ini. Kugenggam batang kemaluan Prast, kurasakan kehangatannya di telapakku dan kupejamkan mataku menikmati segenap sensasi yang muncul. Rasa hangat yang aneh, yang disertai berdirinya buluku seiring dengan sentuhan kulit tubuh telanjang kami berdua di bawah selimut.
Tiba-tiba Prast beranjak turun dari ranjangku dan bergegas ke ruang tamu. Aku heran, kenapa dia berbuat begitu. Ternyata dia mengambil toples yang berisi kripik singkong. Aku memang suka menyimpan keripik singkong yang jadi kesukaannya. Apa lagi yang hendak dilakukannya. Gaya bercinta yang selalu baru membuat aku terheran-heran atas fantasinya. Sekarang apa lagi yang akan terjadi, aku hanya bisa menebak-nebak.
Diangkatnya selimut yang menutupi tubuhku, lalu ditariknya kakiku sehingga badanku terseret agak ke pinggir ranjang. Diremasnya keripik singkong itu kecil-kecil dan ditaburkannya di sekujur badanku. Kini aku sudah mulai bisa menebak jalan pikirannya. Setelah rata ditaburkannya keripik singkong itu di atas badanku, perlahan dia naik ke atas ranjang dan rebah di sampingku. Posisi tubuhnya miring sehingga memungkinkannya bersentuhan langsung dengan kulitku. Dia mulai dengan mencoba menjilati seluruh kripik yang ditaburkannya ke sekujur badanku.
Kini aku dihinggapi sensasi aneh ketika ujung kripik singkong yang kasar tersebut meyentuh kulitku sewaktu akan dimakan Prast. Campuran antara kasarnya ujung singkong dan lembutnya ujung lidah Prast menciptakan fantasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Ini sangat berbeda dengan rabaan atau ciuman mesra bibir Prast yang biasanya menghujani punggung dan dadaku. Tanganku memelintir puting payudaraku sendiri keenakan. Kutarik kencang-kencang agar rasa gatal akibat gesekan ujung kasar keripik itu kalah. Tetapi hal ini tidak terlau banyak menolong. Aku makin panas dan bertambah horny.
Kubiarkan lidahnya menari-nari di atas tubuhku, menjilati bersih semua kripik singkong yang ia taburkan. Sementara aku mencoba menikmati segenap sensasi yang timbul dengan berdiam diri. Semakin aku berusaha menekan, semakin tersiksa aku, namun kenikmatan yang kudapat akibat siksaan itulah yang membuatku tetap bertahan untuk mencapai titik akhir yang paling nikmat. Terdengar gila memang, cewek seperti aku yang pendiam ternyata memiliki fantasi seksual yang aneh. Mungkin ini pula yang membuatku melayani Prast untuk main kasar tanpa harus menjadi seorang sadomasochis. Prast lah yang mengajari semua yang aku tahu, termasuk semua istilah seksual yang tadinya adalah tabu bagiku. Karena Prast pulalah, fantasi seksualku makin menggila. Tampaknya aku memang berpotensi untuk memiliki fantasi seksual yang agak sakit.
Tak perlu kukatakan betapa nikmatnya waktu lidahnya berputar-putar di sekeliling putingku karena aku yakin pasti anda sudah tahu. Namun waktu lidahnya mulai menjilati pusarku, inilah bagian yang paling kusukai. Aku justru merasa sangat terangsang ketika jemari atau lidah Prast membelai bagian antara pusar dan lubang kelaminku. Tanpa dimintapun, Prast sudah tahu dan sedikit berlama-lama ketika mencapai bagian ini. Pria satu ini memang penuh pengertian dan jagoan bercinta.
Setelah puas dengan sedikit foreplay, Prast berbisik lembut kepadaku untuk mengambil agar agak memiringkan badanku. Pasti ada posisi baru, bathinku. Aku turuti kemauannya, kumiringkan badanku ke kiri. Prast segera mengambil posisi di dekat selangkanganku dan menelentangkan badannya. Selangkangan kami bertemu. Aku mulai paham, poros bertemu poros. Kaki kanan Prast di dadaku, sedangkan yang kiri di punggungku. Begitu pula dengan kakiku yang ada di dada dan di bawah punggungnya yang sengaja diangkatnya sedikit. Perlahan Prast menusukkan batang kemaluannya ke lubang kewanitaanku.
Nafasku tertahan waktu Prast memintaku untuk beringsut mendekat. Seiring aku mendekat, batang kemaluannya makin terbenam ke lubang senggamaku dan gerakanku menciptakan sensasi aneh. Mungkin ini terjadi karena batang kemaluan Prast secara tidak beraturan membentur dinding liang kewanitaanku. Posisi gunting seperti ini sungguh memberi kami kenikmatan yang teramat sangat. Ini kurasakan karena dengan posisi begini, batang kemaluan Prast bisa masuk seluruhnya ke dalam liang kewanitaanku. Bahkan kurasakan tulang kemaluannya keras membentur dinding luar lubang liang kewanitaanku.
Untuk memudahkan gerakannya, Prast sedikit mengangkat tubuhnya dengan jalan bertumpu pada tangannya. Posenya seperti orang senam kuda-kuda pelana. Kakinya sedikit menekuk tepat di depan perutku. Dengan cara seperti ini, tubuhnya bisa bergerak seperti naik turun, tapi dalam kondisi miring. Dia memulainya dengan gerakan perlahan, namun secara pasti makin bertambah cepat. Tubuhku terhentak-hentak tidak karuan karena sodokannya dari bawah tersebut. Aku berusaha untuk turut bergerak, namun terasa agak sulit, dan terlebih lagi Prast memintaku untuk menikmati saja setiap tusukannya. Aku tidak tahan, lagi. Ayo kundalini, tahan orgasmemu sebentar lagi, bisikku dalam hati. Terus terang sangat sulit bagiku untuk tidak langsung orgasme dengan posisi senggama seperti ini.
Aku berusaha menahan orgasme dengan menekan kenikmatan yang kurasakan. Secara psikologis aku memang agak tertekan kalau begini. Aku tahan semampuku, namun jebol juga pertahananku. Aku tidak kuat lagi untuk menahan segenap cairan yang sudah meluap-luap di dalam kemaluanku. Aku rengkuh betis Prast dan kutarik sekuatnya agar batang kemaluannya terbenan seluruhnya ketika aku orgasme. Kutahan beberapa waktu dan Prast menurut saja. Kupikir dia tahu aku mencapai puncakku. Kurasakan hangat dan nikmat. Aku pasrah saja dan membiarkan Prast melanjutkan permainan kami. Lagian aku juga menikmati setiap tusukan Prast ketika kami bersenggama.
Tak lama kemudian kulihat lutut Prast sedikit bergetar. Pasti dia sudah hampir memuncak, pikirku. Dan benar saja. Gerakan Prast cepat dan bertambah cepat serta tidak teratur. Kini dia tidak saja menghujamkan batang kemaluannya, namun juga menggoyangkannya. Mau tidak mau aku yang tadinya pasrah menikmati, akhirnya jadi tambah tinggi juga karena tusukan yang disertai goyangan ini. “Ehhhg…”, jeritku tertahan. Aku mencoba menahan diri ketika kurasakan Prast mencabut batang kemaluannya dan duduk mendekatiku. Secara refleks, langsung kukocok batang kemaluannya, sementara tangan Prast meraih liang kewanitaanku dan memainkan klitorisku dengan jari tengahnya (mungkin karena hal ini tanda jari tengah dianggap “saru”). Dengan gemasnya jari Prast menekan-nekan klitorisku, dan ini membuatku makin terangsang.
Segera saja kumasukkan sebagian batang kemaluannya ke mulutku dan aku oral dia, keluar masuk mulutku sambil kumainkan lidahku di glan batang kemaluannya. Tak tahan dengan hisapan dan jilatan lidahku, Prast akhirnya memuntahkan seluruh spermanya. Ditekannya kepalaku agar seluruh batang kemaluannya masuk ke mulut, dan benar-benar menyentuh anak tekakku. Kurasakan enam kali semburan keras diikuti beberapa kali semburan kecil. Semua spermanya tertelan olehku. Aku hampir muntah ketika batang kemaluannya menyentuh anak tekakku. Untung aku sudah agak terbiasa dengan batang kemaluannya yang, menurutku, lumayan panjang. Sebenarnya aku agak jijik kalau harus meminum spermanya. Tapi kali ini apa boleh buat, ini juga tidak terhindarkan dan langsung masuk ke tenggorokanku. Ketika itu akupun tidak terlalu merasakan jijik karena sedang terbuai kenikmatan jari Prast yang dengan kerasnya menekan dan memutar-mutar di klitorisku serta meremas bibir kemaluanku dengan ganasnya. Perbuatannya memaksaku untuk mencapai orgasme kedua yang hanya berbeda beberapa saat dengan saat Prast mencapai puncaknya.
Hari itu kami bangun agak telat, pada saat acara musik TV swasta yang ditayangkan setiap jam 08.30 pagi sudah hampir usai. Kami nikmati hari berdua saja dan hanya keluar rumah kost untuk membeli makanan. Mungkin lain kali akan kuceritakan pengalaman lainnya yang tidak kalah menariknya. Semoga yang satu ini mampu menghidupkan suasana di tempat anda dan menjadi referensi anda bercinta atau sekedar bacaan iseng saja jika senggang.
http://forumbebas.com/